Beberapa tahun lalu, kita terbiasa membuka mesin pencari ketika ingin mengetahui sesuatu. Hari ini, kebiasaan itu mulai bergeser. Alih-alih membaca beberapa sumber, membandingkan informasi, lalu menyusun kesimpulan sendiri, semakin banyak orang memilih bertanya langsung kepada kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Jawaban datang dalam hitungan detik, rapi, meyakinkan, bahkan sering kali terdengar lebih percaya diri daripada manusia yang menuliskannya.
Perubahan itu memang membawa banyak manfaat. AI membantu pelajar memahami materi, mempermudah pekerjaan kantoran, mempercepat proses menulis, hingga menjadi asisten bagi programmer, desainer, dan jurnalis. Sulit membantah bahwa teknologi ini telah mengubah cara kita belajar dan bekerja. Namun, di balik segala kemudahannya, muncul sebuah pertanyaan yang jarang dibicarakan: apakah semakin mudah mendapatkan jawaban berarti kita juga semakin terampil berpikir?
Pertanyaan tersebut bukan lahir dari ketakutan terhadap teknologi. Justru sebaliknya. AI adalah salah satu inovasi paling penting dalam beberapa dekade terakhir. Masalahnya bukan pada AI, melainkan pada cara kita menggunakannya. Ketika sebuah jawaban datang begitu cepat, ada godaan besar untuk langsung mempercayainya tanpa memeriksa kembali. Perlahan, proses berpikir yang sebelumnya diisi dengan membaca, mempertanyakan, dan menguji argumen mulai dipersingkat menjadi satu langkah sederhana: bertanya, lalu menerima jawaban.
Fenomena itu bukan sekadar dugaan. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kasus menunjukkan bahwa kepercayaan yang berlebihan terhadap AI dapat berujung pada kesalahan yang nyata. Salah satu yang paling banyak dibahas terjadi di Amerika Serikat ketika seorang pengacara bernama Steven A. Schwartz memasukkan enam putusan hukum fiktif ke dalam berkas gugatan setelah memperoleh referensi tersebut dari ChatGPT. Ia mengira seluruh kutipan itu benar adanya. Ternyata, kasus-kasus tersebut tidak pernah ada.
Kasus lain menimpa jurnalis asal Jerman, Martin Bernklau. Ketika mencoba mencari namanya sendiri melalui Microsoft Copilot, AI justru menghasilkan informasi yang keliru. Ia digambarkan sebagai pelaku pelecehan anak, buronan rumah sakit jiwa, hingga pengedar narkoba. Semua informasi itu tidak benar. Yang terjadi sebenarnya, AI mencampuradukkan identitas Bernklau dengan berbagai perkara kriminal yang pernah ia liput sebagai wartawan pengadilan.
Di Amerika Serikat, penyiar radio Mark Walters juga mengalami pengalaman serupa. ChatGPT menghasilkan informasi yang menyebut dirinya terlibat dalam kasus penggelapan dana, padahal ia sama sekali tidak memiliki kaitan dengan perkara tersebut. Kesalahan seperti ini dikenal sebagai AI hallucination, yaitu kondisi ketika model AI menghasilkan informasi yang terdengar sangat meyakinkan, tetapi sebenarnya tidak didukung oleh fakta.
Yang lebih mengkhawatirkan, persoalannya tidak berhenti pada kesalahan informasi. Penelitian yang dilakukan MIT Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory (CSAIL) bersama University of Washington pada 2026 mendokumentasikan fenomena sycophantic AI, yaitu kecenderungan chatbot untuk terlalu menyetujui atau menguatkan keyakinan penggunanya. Dalam beberapa kasus, respons semacam itu justru memperkuat keyakinan yang keliru hingga memengaruhi keputusan hidup seseorang.
Semua contoh tersebut memperlihatkan satu pola yang sama. AI memang mampu memberikan jawaban dengan sangat cepat, tetapi kecepatan bukanlah jaminan kebenaran. Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian. Kita mulai hidup di zaman ketika jawaban tersedia di mana-mana, tetapi kemampuan untuk mempertanyakan jawaban itu justru semakin jarang digunakan.
Dahulu, menemukan sebuah jawaban berarti melewati proses yang cukup panjang. Kita membaca buku, membuka beberapa situs, membandingkan pendapat, lalu menyusun kesimpulan sendiri. Proses itu memang lebih lambat, tetapi di situlah kemampuan berpikir kritis dibentuk.
Kini, AI mempersingkat hampir seluruh tahapan tersebut. Cukup satu pertanyaan, kita langsung memperoleh ringkasan, analisis, bahkan kesimpulan. Efisien? Tentu. Namun, efisiensi kadang membawa konsekuensi yang tidak disadari. Semakin sering seseorang menerima jawaban tanpa menguji kembali sumbernya, semakin besar pula risiko munculnya ketergantungan terhadap AI sebagai satu-satunya rujukan.
Ironisnya, banyak orang merasa dirinya semakin pintar karena AI mampu menjawab hampir semua pertanyaan. Padahal, yang bertambah sering kali hanyalah akses terhadap informasi, bukan kemampuan untuk menilai apakah informasi tersebut benar, relevan, atau bahkan masuk akal.
Barangkali, inilah tantangan terbesar di era kecerdasan buatan. Bukan bagaimana membuat AI semakin cerdas, melainkan bagaimana memastikan manusia tidak berhenti berpikir hanya karena semua jawaban terasa begitu mudah didapatkan.

Menariknya, ketika berbicara mengenai perkembangan AI di Indonesia, kita justru dihadapkan pada angka-angka yang tampak saling bertentangan. Di satu sisi, muncul klaim bahwa tingkat adopsi AI di Indonesia sangat tinggi. Di sisi lain, ada survei yang menunjukkan sebagian besar masyarakat bahkan belum pernah menggunakan AI sama sekali. Perbedaan ini bukan sekadar persoalan statistik, melainkan mengingatkan kita bahwa sebuah angka tidak pernah berdiri sendiri. Cara mengukur dan mendefinisikan “adopsi AI” sangat menentukan hasil akhirnya.
Pada Februari 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut tingkat pemanfaatan AI untuk produktivitas nasional telah mencapai sekitar 92 persen. Namun, dalam kesempatan yang sama, ia juga mengingatkan bahwa Indonesia masih tergolong laggard atau tertinggal dalam kesiapan keterampilan AI berdasarkan Technology and Innovation Report 2025. Pernyataan tersebut menghadirkan paradoks yang menarik. Jika pemanfaatannya sudah sangat tinggi, mengapa kesiapan sumber daya manusianya masih dinilai tertinggal?
Hasil survei lain dari PwC Global Workforce Hopes and Fears Survey 2026 menunjukkan angka yang berbeda. Sebanyak 69 persen responden di Indonesia mengaku telah menggunakan AI, lebih tinggi dibanding rata-rata global. Bahkan, sekitar 16 persen pekerja—yang didominasi Generasi Z—menggunakan AI generatif setiap hari, dan hampir seluruhnya merasa teknologi tersebut membuat mereka lebih produktif.
Sementara itu, survei APJII 2026 justru memperlihatkan gambaran yang jauh lebih konservatif. Hanya 18,2 persen pengguna internet Indonesia yang mengaku pernah menggunakan AI. Artinya, sekitar 81,8 persen responden belum pernah memanfaatkannya sama sekali. Generasi Z menjadi kelompok pengguna paling aktif, disusul milenial, sedangkan pengguna dari Generasi X dan Baby Boomers masih relatif sedikit.
Apakah salah satu data tersebut keliru? Belum tentu. Ketiga survei itu kemungkinan menggunakan populasi, metode, dan definisi yang berbeda. Ada yang mengukur penggunaan AI dalam konteks pekerjaan, ada yang mengukur pemanfaatan AI secara umum, sementara survei lainnya melihat penggunaan AI di kalangan seluruh pengguna internet Indonesia. Karena itu, angka-angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai potongan-potongan dari sebuah gambaran yang lebih besar, bukan sebagai data yang saling meniadakan.
Terlepas dari berapa pun angka yang digunakan, ada satu temuan yang justru lebih menarik. Survei APJII menunjukkan bahwa hampir separuh responden yang belum menggunakan AI mengaku tidak memahami teknologi tersebut. Sebagian lainnya merasa tidak membutuhkan AI, sementara sisanya mengaku belum mengetahui cara menggunakannya atau masih memiliki kekhawatiran terhadap keamanan data pribadi.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan terbesar bukan hanya akses terhadap teknologi, melainkan juga literasi digital. Kita sering kali menganggap seseorang yang menggunakan AI sebagai individu yang lebih siap menghadapi era digital. Padahal, menggunakan AI dan memahami AI adalah dua hal yang berbeda.
Seseorang bisa saja mahir meminta chatbot membuat presentasi, menyusun laporan, atau menulis artikel. Namun, jika ia tidak mampu memeriksa kembali akurasi jawaban, mengenali potensi halusinasi AI, ataupun memahami batas kemampuan model bahasa, maka teknologi tersebut justru berpotensi menciptakan rasa percaya diri yang semu.
Menariknya, berbagai penelitian di Indonesia tidak serta-merta menyimpulkan bahwa AI merusak kemampuan berpikir kritis. Sejumlah studi pendidikan yang terbit sepanjang 2024 hingga 2025 justru menunjukkan hasil yang lebih bernuansa. AI dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis ketika digunakan sebagai alat untuk berdiskusi, membandingkan sudut pandang, dan menguji argumen.
Sebaliknya, penurunan kualitas nalar lebih sering muncul ketika AI diperlakukan sebagai mesin pemberi jawaban instan. Ketika seluruh proses berpikir diserahkan kepada chatbot, pengguna kehilangan kesempatan untuk menganalisis informasi, mencari sumber pembanding, dan membangun kesimpulannya sendiri.
Beberapa penelitian bahkan menggambarkan AI sebagai mitra kognitif, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia. Dalam konteks pendidikan, manfaat tersebut baru benar-benar terasa ketika penggunaan AI didampingi oleh guru atau dosen yang membantu mahasiswa mengevaluasi jawaban, mempertanyakan argumen, dan memahami konteks. Tanpa proses pendampingan itu, penggunaan AI justru lebih mudah berubah menjadi ketergantungan kognitif.
Inilah yang menurut saya sering terlewat dalam perdebatan mengenai AI. Kita terlalu sibuk mempertanyakan apakah AI akan menggantikan manusia, padahal pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah manusia masih mau menggunakan kemampuan berpikirnya ketika jawaban sudah tersedia dalam hitungan detik?

Barangkali inilah ironi terbesar di era kecerdasan buatan. Kita hidup pada masa ketika informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, tetapi belum tentu memahami apa yang sebenarnya sedang kita baca. AI membuat proses mencari jawaban menjadi jauh lebih mudah, tetapi kemudahan itu tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Kemampuan berpikir kritis sesungguhnya tidak lahir ketika seseorang menemukan jawaban, melainkan ketika ia berani mempertanyakan jawaban tersebut. Apakah informasi ini benar? Dari mana sumbernya? Apakah ada sudut pandang lain yang perlu dipertimbangkan? Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itulah yang menjadi fondasi berpikir kritis, dan hingga hari ini belum ada teknologi yang mampu menggantikannya.
Sebagai alat, AI memang luar biasa. Ia dapat merangkum ratusan halaman dokumen dalam hitungan detik, membantu menyusun ide, menerjemahkan bahasa, bahkan menjadi teman berdiskusi ketika kita mengalami kebuntuan. Namun, kemampuan tersebut tetap memiliki batas. AI tidak memiliki pengalaman hidup, tidak memiliki pertimbangan moral, dan tidak memahami konteks sosial sebagaimana manusia memahaminya.
Model AI juga bekerja berdasarkan pola dari data yang dipelajarinya. Karena itu, ia tetap dapat menghasilkan informasi yang keliru, bias, atau bahkan bertentangan dengan fakta. OpenAI sendiri pernah mengakui bahwa model bahasa besar masih memiliki kecenderungan menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan meskipun tidak selalu benar. Dalam banyak situasi, AI lebih mudah memberikan jawaban daripada mengakui bahwa ia tidak mengetahui sesuatu.
Fakta tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa AI bukan sumber kebenaran mutlak. Ia lebih tepat diposisikan sebagai asisten yang membantu mempercepat pekerjaan, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia.
Jika ada satu keterampilan yang perlu terus dipertahankan di era AI, mungkin itu adalah keberanian untuk bertanya. Bukan sekadar bertanya kepada chatbot, melainkan bertanya kepada diri sendiri. Apakah jawaban ini masuk akal? Apakah saya sudah memeriksa sumber lain? Apakah ada kemungkinan informasi ini keliru?
Budaya bertanya inilah yang perlahan mulai tergerus ketika segala sesuatu dapat diselesaikan dengan satu kali perintah kepada AI. Kita menjadi terbiasa menerima jawaban tanpa melalui proses membaca, membandingkan, dan menyusun argumen sendiri. Padahal, justru di dalam proses itulah kemampuan berpikir kritis tumbuh.
Teknologi seharusnya membantu manusia berpikir lebih baik, bukan menggantikan proses berpikir itu sendiri. Semakin canggih AI berkembang, semakin penting pula kemampuan manusia untuk mengevaluasi, mengkritisi, dan memahami informasi yang diterimanya.

Perkembangan AI adalah salah satu pencapaian teknologi paling besar dalam beberapa dekade terakhir. Kehadirannya telah mengubah cara kita belajar, bekerja, dan berkomunikasi. Menolak AI bukanlah pilihan yang realistis. Sebaliknya, memanfaatkannya secara bijak adalah tantangan yang harus dihadapi oleh setiap pengguna teknologi.
Berbagai data menunjukkan bahwa adopsi AI di Indonesia terus meningkat, meskipun angka-angkanya masih beragam tergantung metode pengukuran yang digunakan. Di sisi lain, penelitian akademik juga memperlihatkan bahwa AI dapat menjadi alat yang memperkuat ataupun melemahkan kemampuan berpikir kritis. Perbedaannya terletak pada cara manusia menggunakannya.
Karena itu, persoalan terbesar di era AI bukan lagi tentang seberapa cepat mesin mampu menghasilkan jawaban. Persoalannya adalah apakah manusia masih memiliki kemauan untuk membaca lebih jauh, memeriksa kembali fakta, dan berani meragukan informasi yang tampak meyakinkan. Di tengah banjir informasi yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan, kemampuan berpikir kritis justru menjadi keterampilan yang nilainya semakin mahal.

Mungkin pada akhirnya, ukuran kecerdasan manusia tidak lagi ditentukan oleh seberapa cepat ia memperoleh jawaban. Melainkan oleh seberapa bijak ia memutuskan jawaban mana yang layak dipercaya.