Istilah brain rot terdengar seperti istilah baru yang lahir dari era media sosial. Padahal, kata ini sudah digunakan jauh sebelum TikTok, Instagram, atau internet ditemukan. Lebih dari 150 tahun lalu, Henry David Thoreau telah menggunakan istilah tersebut untuk mengkritik kecenderungan masyarakat yang lebih menyukai gagasan sederhana daripada pemikiran yang kompleks.
Hari ini, brain rot kembali populer dengan makna yang berbeda konteks tetapi memiliki kekhawatiran yang serupa. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kebiasaan mengonsumsi konten online secara berlebihan, terutama konten yang dianggap dangkal, repetitif, atau tidak menantang secara intelektual. Popularitasnya bahkan membuat Oxford memilih brain rot sebagai Word of the Year 2024.
Oxford mendefinisikan brain rot sebagai anggapan mengenai kemerosotan kondisi mental atau intelektual seseorang yang terutama dikaitkan dengan konsumsi berlebihan terhadap materi yang dianggap sepele atau tidak menantang, khususnya konten online. Istilah ini juga dapat digunakan untuk menyebut konten yang dianggap berpotensi menyebabkan kondisi tersebut. Dengan demikian, brain rot sejak awal bukan nama penyakit atau diagnosis medis, melainkan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap pola konsumsi informasi.
Dalam penggunaan sehari-hari, maknanya menjadi lebih luas dan sering kali bersifat humoris. Seseorang dapat menyebut dirinya mengalami brain rot setelah berjam-jam menonton video pendek, mengulang meme yang sama, atau mengonsumsi konten internet yang dianggap tidak memberikan banyak nilai. Karena itu, istilah tersebut bisa merujuk pada konten yang dikonsumsi sekaligus perasaan atau kondisi yang dianggap muncul setelah terlalu lama mengonsumsinya.
Oxford mencatat bahwa penggunaan istilah brain rot meningkat 230 persen antara 2023 dan 2024. Pada 2 Desember 2024, Oxford University Press kemudian menetapkannya sebagai Word of the Year setelah lebih dari 37.000 orang ikut memberikan suara dalam proses pemilihannya. Popularitas istilah ini menunjukkan bahwa brain rot bukan hanya bahasa gaul internet, tetapi juga mencerminkan kekhawatiran masyarakat yang semakin besar terhadap hubungan antara teknologi, perhatian, dan kebiasaan digital.
Hal yang menarik dari brain rot adalah sejarahnya yang jauh lebih tua daripada internet. Oxford menemukan penggunaan tertulis pertama istilah tersebut dalam Walden, buku karya Henry David Thoreau yang diterbitkan pada 1854. Dalam konteks tersebut, Thoreau menggunakan istilah brain-rot ketika mengkritik kecenderungan masyarakat meremehkan gagasan yang kompleks dan lebih memilih pemikiran yang sederhana.
Maknanya tentu tidak sama persis dengan penggunaan modern di media sosial. Thoreau tidak sedang membicarakan video pendek, algoritma rekomendasi, atau doomscrolling, karena semua teknologi tersebut belum ada. Namun, terdapat kemiripan menarik dalam gagasan dasarnya: kekhawatiran bahwa manusia dapat kehilangan kedalaman berpikir ketika terlalu terbiasa mengonsumsi sesuatu yang mudah dan tidak menuntut banyak usaha intelektual.
Lebih dari satu setengah abad kemudian, istilah tersebut mendapatkan kehidupan baru di internet. Komunitas Gen Z dan Gen Alpha menggunakannya secara informal untuk menyebut berbagai bentuk budaya internet yang absurd, repetitif, dan sengaja dibuat sangat mudah dikonsumsi. Contohnya termasuk fenomena seperti Skibidi Toilet dan meme Ohio, yang kemudian ikut membentuk apa yang disebut Oxford sebagai brain rot language.
Kebangkitan brain rot tidak dapat dilepaskan dari perubahan cara manusia mengonsumsi informasi. Internet membuat jumlah konten yang tersedia hampir tidak terbatas, sementara platform media sosial menggunakan sistem rekomendasi untuk terus menyajikan konten yang diperkirakan menarik bagi setiap pengguna. Akibatnya, seseorang dapat berpindah dari satu video ke video lain tanpa harus menentukan sendiri kapan proses konsumsi tersebut berakhir.
Dalam konteks ini, brain rot menjadi semacam bahasa populer untuk menggambarkan kegelisahan terhadap budaya digital yang serba cepat. Istilah tersebut tidak selalu digunakan secara serius karena sering menjadi candaan atau bentuk ejekan terhadap diri sendiri. Namun, di balik penggunaannya yang humoris terdapat pertanyaan yang lebih serius: apa yang terjadi ketika sebagian besar waktu luang kita diisi oleh rangsangan digital yang terus berganti?
Pertanyaan tersebut semakin relevan karena brain rot bukan hanya berbicara tentang jenis konten tertentu. Ia juga berkaitan dengan cara konten tersebut dikonsumsi, seberapa sering seseorang berpindah perhatian, dan apakah pengguna masih memiliki kendali untuk berhenti ketika sudah tidak memperoleh manfaat dari aktivitas tersebut. Untuk memahami persoalan itu, kita perlu melihat bagaimana pola penggunaan internet dan desain platform dapat memengaruhi kebiasaan perhatian manusia.
Istilah brain rot tidak hanya berkaitan dengan jenis konten yang dianggap receh atau tidak bermutu. Fenomena ini juga berhubungan dengan bagaimana konten digital dikonsumsi: cepat, berulang, personal, dan hampir tanpa batas. Ketika satu video selesai, pengguna dapat langsung berpindah ke video berikutnya tanpa perlu mengambil keputusan baru, sehingga aktivitas yang awalnya hanya ingin dilakukan beberapa menit dapat berlangsung jauh lebih lama.
Video pendek mengubah ritme konsumsi informasi karena setiap konten hanya membutuhkan waktu singkat sebelum pengguna mendapatkan rangsangan berikutnya. Dalam satu sesi, seseorang dapat melihat puluhan atau bahkan ratusan potongan video dengan topik, visual, suara, dan emosi yang berbeda. Pola tersebut membuat proses berpindah perhatian menjadi bagian yang sangat alami dari pengalaman menggunakan platform digital.
Persoalannya bukan berarti menonton video pendek secara otomatis merusak kemampuan berpikir. Yang perlu diperhatikan adalah pola penggunaan ketika seseorang terus mencari rangsangan baru dan semakin jarang memberikan waktu untuk membaca, berpikir, atau menyelesaikan aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama. Sebuah rapid review yang menganalisis 35 penelitian mengenai penggunaan digital berlebihan menemukan bahwa digital addiction dan excessive screen time merupakan tema yang paling sering muncul dalam literatur yang ditinjau.
Di sinilah konsep brain rot menjadi lebih luas daripada sekadar candaan tentang meme. Yang dipersoalkan adalah kemungkinan terbentuknya kebiasaan konsumsi yang membuat pengguna selalu mengharapkan sesuatu yang baru dalam waktu singkat. Jika kebiasaan tersebut terbawa ke aktivitas lain, kegiatan yang berlangsung lebih lambat dapat terasa kurang menarik meskipun sebenarnya membutuhkan konsentrasi dan memberikan manfaat yang lebih besar.
Salah satu karakteristik penting platform digital modern adalah infinite scrolling, yaitu desain yang memungkinkan pengguna terus memperoleh konten baru tanpa mencapai halaman akhir. Tidak adanya titik berhenti yang jelas membuat pengguna tidak selalu memiliki momen alami untuk bertanya apakah mereka masih ingin melanjutkan. Akibatnya, keputusan untuk berhenti harus datang dari pengguna sendiri, sementara sistem terus menyediakan alasan untuk melihat satu konten lagi.
Situasi tersebut menjadi semakin kuat ketika infinite scrolling digabungkan dengan rekomendasi yang dipersonalisasi. Algoritma mempelajari interaksi pengguna dan kemudian memilih konten yang diperkirakan mampu mempertahankan perhatian mereka. Penelitian mengenai brain rot juga mengidentifikasi penggunaan media sosial berlebihan, doomscrolling, dan zombie scrolling sebagai pola perilaku digital yang berkaitan dengan kekhawatiran mengenai perhatian dan fungsi kognitif.
Karena itu, durasi penggunaan saja tidak selalu cukup untuk memahami persoalan. Dua orang dapat menghabiskan satu jam di internet dengan pengalaman yang sangat berbeda: satu orang mungkin membaca artikel secara mendalam, sementara yang lain berpindah dari satu video pendek ke video berikutnya tanpa tujuan yang jelas. Perbedaan pola inilah yang membuat kualitas dan konteks penggunaan internet sama pentingnya dengan jumlah waktu yang dihabiskan di depan layar.
Doomscrolling merujuk pada kebiasaan terus menggulir untuk mengonsumsi informasi, terutama berita atau konten yang negatif dan mengkhawatirkan, meskipun pengguna menyadari bahwa aktivitas tersebut dapat membuat mereka semakin cemas atau lelah. Sementara itu, zombie scrolling lebih menggambarkan aktivitas menggulir secara pasif tanpa tujuan yang jelas, seolah-olah tangan terus bergerak sementara pengguna tidak benar-benar memutuskan apa yang ingin mereka cari. Keduanya berbeda, tetapi sama-sama menunjukkan bagaimana konsumsi digital dapat berlangsung tanpa tujuan yang benar-benar disadari.
Dalam rapid review terhadap 35 penelitian, istilah doomscrolling muncul dalam 9 penelitian atau sekitar 17 persen dari literatur yang dianalisis, sedangkan zombie scrolling muncul dalam 6 penelitian atau sekitar 11 persen. Angka tersebut tidak berarti 17 persen atau 11 persen pengguna internet mengalami perilaku tersebut, melainkan menunjukkan seberapa sering kedua konsep itu muncul dalam kumpulan penelitian yang ditinjau. Pembedaan ini penting agar data penelitian tidak keliru diterjemahkan menjadi prevalensi di masyarakat.
Pola konsumsi seperti ini juga berkaitan dengan persoalan yang lebih luas tentang hubungan manusia dengan kebosanan. Ketika setiap jeda dapat langsung diisi dengan video, komentar, berita, atau notifikasi baru, seseorang semakin jarang mengalami momen ketika tidak ada rangsangan digital untuk dikonsumsi. Fenomena tersebut memiliki kaitan dengan pembahasan BERITANDA.ID mengenai hilangnya kebosanan dalam kehidupan digital, karena kemampuan untuk membiarkan pikiran berhenti sejenak juga menjadi bagian dari cara manusia mengelola perhatian.
Dengan demikian, brain rot lebih tepat dipahami sebagai istilah populer untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap pola konsumsi digital yang berlebihan, bukan sebagai nama penyakit yang secara harfiah membuat otak membusuk. Penelitian yang ada lebih banyak membahas hubungan antara penggunaan digital berlebihan dengan perhatian, memori, kesehatan mental, dan perilaku adiktif, sehingga hubungan sebab-akibatnya tetap perlu dibaca dengan hati-hati.
Salah satu alasan istilah brain rot terasa relevan adalah perubahan cara manusia menggunakan perhatian di lingkungan digital. Kita tidak hanya berhadapan dengan lebih banyak informasi, tetapi juga lebih sering berpindah dari satu layar, aplikasi, atau aktivitas ke aktivitas lainnya. Kondisi ini membuat perhatian menjadi sumber daya yang terus diperebutkan, terutama ketika berbagai layanan digital dirancang agar pengguna tetap terlibat selama mungkin.
Psikolog dan peneliti informatika Gloria Mark dari University of California, Irvine, telah mempelajari pola perhatian manusia pada layar selama lebih dari dua dekade. Dalam penelitiannya, rata-rata waktu seseorang bertahan pada satu layar sebelum berpindah aktivitas tercatat sekitar 2,5 menit pada 2004. Angka tersebut kemudian menjadi sekitar 75 detik pada 2012 dan sekitar 47 detik dalam pengukuran beberapa tahun terakhir yang dilaporkan Mark.
Angka tersebut menunjukkan adanya perubahan besar dalam pola interaksi manusia dengan perangkat digital. Mark menjelaskan bahwa pengukuran tersebut dilakukan menggunakan metode pencatatan aktivitas pada perangkat, sehingga yang diamati adalah perilaku perpindahan perhatian di layar dalam situasi penggunaan nyata. Peneliti lain juga menemukan hasil yang berada di kisaran serupa, sehingga temuan mengenai semakin cepatnya perpindahan perhatian pada layar bukan hanya berasal dari satu pengukuran.
Perubahan tersebut penting dalam pembahasan brain rot karena konsumsi konten pendek merupakan salah satu lingkungan yang sangat kaya akan pergantian stimulus. Setiap geseran layar dapat menghadirkan topik, suara, wajah, atau informasi baru dalam hitungan detik. Namun, hubungan antara pola perpindahan perhatian dan konsumsi media sosial tidak boleh disederhanakan menjadi kesimpulan bahwa video pendek secara otomatis menyebabkan kemampuan kognitif manusia menurun.
Angka 47 detik sering beredar sebagai klaim bahwa “rentang perhatian manusia sekarang hanya 47 detik”. Pernyataan tersebut kurang tepat karena penelitian Mark mengukur berapa lama seseorang rata-rata bertahan pada satu layar sebelum berpindah perhatian, bukan batas biologis kemampuan manusia untuk berkonsentrasi. Seseorang tetap dapat membaca buku, mengerjakan proyek, menonton film, atau mempelajari sesuatu selama jauh lebih dari 47 detik ketika memiliki tujuan dan kondisi yang mendukung.
Mark sendiri membedakan antara perhatian pada satu layar dan perhatian terhadap sebuah proyek. Dalam penjelasannya, rata-rata perpindahan antaraktivitas pada layar tidak berarti seseorang kehilangan kemampuan untuk kembali ke tugas yang sama atau mempertahankan perhatian dalam jangka lebih panjang. Dengan kata lain, 47 detik lebih tepat dipahami sebagai ukuran attention switching pada penggunaan layar, bukan sebagai “umur” konsentrasi manusia.
Pembedaan ini penting karena istilah brain rot mudah berubah menjadi narasi bahwa teknologi telah membuat otak manusia “rusak”. Bukti yang ada tidak mendukung kesimpulan sesederhana itu. Yang lebih jelas terlihat adalah perubahan pola interaksi dengan teknologi, termasuk semakin seringnya perhatian berpindah dan meningkatnya jumlah gangguan yang harus dikelola pengguna.
Perpindahan perhatian yang cepat memiliki konsekuensi tersendiri karena setiap kali seseorang beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain, mereka membutuhkan usaha untuk kembali memahami konteks. Penelitian Mark menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi perpindahan perhatian dengan tingkat stres, sementara penelitian tentang penggunaan perangkat digital juga menunjukkan bahwa multitasking dan gangguan berulang dapat membuat pekerjaan terasa lebih melelahkan.
Dalam konteks brain rot, persoalannya bukan apakah seseorang boleh menikmati konten pendek. Yang perlu diperhatikan adalah ketika otak semakin terbiasa dengan pergantian rangsangan yang cepat sehingga aktivitas yang membutuhkan proses lebih lambat terasa sulit untuk dipertahankan. Membaca tulisan panjang, mempelajari konsep baru, atau menyelesaikan pekerjaan yang monoton membutuhkan bentuk perhatian yang berbeda dari sekadar menggulir feed.
Karena itu, istilah brain rot sebaiknya tidak digunakan untuk menyatakan bahwa otak benar-benar mengalami pembusukan. Lebih tepat jika istilah tersebut dipahami sebagai bahasa populer untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap pola konsumsi digital yang berlebihan, sementara penelitian ilmiah digunakan untuk memahami bagian-bagian spesifik dari fenomena tersebut, seperti perpindahan perhatian, multitasking, penggunaan media sosial berlebihan, dan kualitas tidur.
Perhatian terhadap brain rot banyak diarahkan kepada Gen Z dan Gen Alpha karena kedua kelompok ini tumbuh dalam lingkungan digital yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Bagi sebagian dari mereka, media sosial, video pendek, dan perangkat seluler bukan sekadar teknologi tambahan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari sejak usia relatif muda. Namun, hal tersebut tidak berarti setiap anggota kedua generasi tersebut otomatis mengalami masalah akibat penggunaan media sosial.
Gen Z dan Gen Alpha sering disebut sebagai kelompok yang paling dekat dengan budaya digital karena sebagian besar masa pertumbuhan mereka berlangsung ketika internet dan perangkat seluler sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka lebih mudah menemukan video pendek, permainan digital, komunitas daring, dan berbagai bentuk hiburan hanya melalui satu perangkat. Lingkungan seperti ini membuat mereka memiliki akses yang sangat besar terhadap informasi sekaligus menghadapi tantangan untuk mengelola perhatian di tengah arus konten yang terus bertambah.
Kedekatan dengan teknologi juga tidak selalu berarti dampak negatif. Generasi muda menggunakan internet untuk belajar, berkomunikasi, membangun komunitas, mengembangkan kreativitas, dan mencari peluang ekonomi yang sebelumnya sulit diakses. Karena itu, pembahasan tentang brain rot sebaiknya tidak menganggap Gen Z atau Gen Alpha sebagai generasi yang pasif menjadi korban teknologi, melainkan sebagai pengguna yang juga mampu mengenali masalah dan mengubah kebiasaan digital mereka.
Justru karena penggunaan teknologi sudah begitu terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan mengatur perhatian menjadi semakin penting. Persoalannya bukan berapa kali seseorang membuka media sosial dalam sehari, tetapi apakah penggunaan tersebut masih berada dalam kendali atau mulai mengganggu aktivitas lain yang penting. Perbedaan konteks ini membuat risiko penggunaan digital perlu dilihat secara individual, bukan hanya berdasarkan kelompok generasi.
Anak dan remaja menjadi perhatian khusus karena kebiasaan penggunaan perangkat terbentuk ketika kemampuan mengatur perhatian dan impuls masih berkembang. Paparan layar yang tinggi juga dapat mengambil waktu yang seharusnya digunakan untuk tidur, aktivitas fisik, belajar, bermain, atau berinteraksi langsung dengan keluarga dan teman. Karena itu, dampak penggunaan perangkat tidak cukup dinilai hanya dari jenis aplikasinya, tetapi juga dari apa yang tergeser oleh waktu di depan layar.
Sejumlah sumber dalam bahan riset memperkirakan anak usia 8–12 tahun dapat menghabiskan beberapa jam sehari di depan layar, sementara remaja dapat menghabiskan waktu yang lebih panjang. Namun, angka tersebut perlu dibaca berdasarkan metode survei, negara, jenis perangkat, dan definisi “screen time” yang digunakan karena hasil penelitian dapat berbeda. Durasi yang tinggi sendiri juga belum membuktikan bahwa seseorang mengalami brain rot atau gangguan kognitif tertentu.
Yang lebih relevan adalah melihat apakah penggunaan layar mulai menggantikan kebutuhan dasar dan aktivitas perkembangan yang penting. Jika seorang anak sulit tidur karena terus menggunakan perangkat, berhenti bermain di luar, kehilangan minat terhadap kegiatan lain, atau terus menggunakan media sosial meskipun sudah mengganggu sekolah dan hubungan sosial, kondisi tersebut lebih layak menjadi perhatian daripada sekadar angka durasi penggunaan.
Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menjadi masalah ketika mulai mengganggu rutinitas yang mendukung kesehatan fisik dan psikologis. Waktu tidur dapat berkurang karena penggunaan perangkat pada malam hari, sementara aktivitas fisik dan interaksi tatap muka dapat ikut tersisih. Pada akhirnya, masalahnya bukan hanya apa yang seseorang lihat di layar, tetapi bagaimana kebiasaan tersebut mengubah keseimbangan kehidupannya secara keseluruhan.
Pola yang sama dapat terjadi pada orang dewasa. Seseorang yang terus membuka media sosial ketika bekerja, belajar, atau sedang berbicara dengan orang lain dapat mengalami gangguan perhatian meskipun penggunaan tersebut tidak berlangsung berjam-jam sekaligus. Notifikasi, kebiasaan memeriksa aplikasi, dan perpindahan cepat antaraktivitas dapat membuat perhatian terpecah dan pekerjaan membutuhkan waktu lebih lama untuk diselesaikan.
Karena itu, istilah brain rot lebih berguna jika digunakan sebagai kesempatan untuk mengevaluasi kebiasaan digital daripada sebagai label untuk kelompok tertentu. Tidak ada batas universal yang mengatakan bahwa seseorang akan mengalami “brain rot” setelah menggunakan media sosial selama jumlah jam tertentu. Tanda yang lebih penting adalah hilangnya kendali, munculnya gangguan terhadap aktivitas sehari-hari, dan semakin sulitnya seseorang menikmati atau menyelesaikan kegiatan di luar layar.
Istilah brain rot tidak memiliki daftar gejala medis resmi karena bukan merupakan diagnosis atau gangguan klinis. Karena itu, tanda-tanda yang sering disebut dalam pembahasan tentang fenomena ini sebaiknya dipahami sebagai perubahan kebiasaan dan perilaku digital yang patut diperhatikan, bukan sebagai bukti bahwa otak seseorang sedang mengalami kerusakan. Yang paling penting adalah melihat apakah pola penggunaan internet mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Beberapa tanda dapat terlihat dari cara seseorang menggunakan perangkat, mengelola perhatian, dan merespons aktivitas di luar layar. Satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya masalah, karena sulit berkonsentrasi atau merasa lelah setelah menggunakan perangkat dapat terjadi karena banyak faktor. Perhatian perlu diberikan ketika beberapa pola muncul secara berulang dan mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, tidur, hubungan sosial, atau aktivitas penting lainnya.
Salah satu hal yang sering dikaitkan dengan penggunaan media sosial berlebihan adalah kesulitan mempertahankan perhatian pada aktivitas yang membutuhkan waktu lebih panjang. Seseorang mungkin merasa ingin terus berpindah aplikasi, memeriksa ponsel, atau mencari rangsangan baru meskipun sedang membaca, belajar, atau mengerjakan sesuatu. Pola seperti ini lebih tepat dipahami sebagai gangguan terhadap kebiasaan perhatian daripada langsung disebut sebagai penurunan kemampuan kognitif.
Kesulitan fokus juga dapat muncul karena berbagai penyebab lain, seperti kurang tidur, stres, beban pekerjaan, kecemasan, atau lingkungan yang penuh gangguan. Karena itu, penggunaan media sosial tidak seharusnya langsung dianggap sebagai penyebab tunggal. Yang lebih penting adalah mengamati apakah kebiasaan digital menjadi salah satu faktor yang secara konsisten membuat seseorang semakin sulit menyelesaikan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi.
Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan membuka media sosial tanpa tujuan yang jelas lalu terus menggulir meskipun sebenarnya sudah tidak menikmati kontennya. Pengguna mungkin awalnya hanya berniat melihat beberapa video, tetapi akhirnya menghabiskan waktu jauh lebih lama karena selalu tersedia konten berikutnya. Pola seperti ini berkaitan dengan konsep doomscrolling dan zombie scrolling yang banyak dibahas dalam penelitian mengenai penggunaan media digital berlebihan.
Masalahnya bukan pada aktivitas menggulir itu sendiri, melainkan pada hilangnya kesadaran mengenai kapan dan mengapa aktivitas tersebut dilakukan. Jika seseorang berkali-kali ingin berhenti tetapi kembali membuka aplikasi secara otomatis, kebiasaan tersebut layak dievaluasi. Dalam kondisi seperti ini, membuat batas penggunaan atau menghilangkan pemicu tertentu dapat menjadi langkah sederhana untuk mengembalikan kontrol.
Penggunaan konten yang sangat cepat dan beragam dapat membuat aktivitas yang berjalan lebih lambat terasa kurang menarik bagi sebagian orang. Membaca buku, berjalan tanpa ponsel, mengobrol tanpa membuka layar, atau mengerjakan pekerjaan rutin mungkin terasa membosankan dibandingkan feed yang terus memberikan rangsangan baru. Namun, rasa bosan terhadap aktivitas tertentu tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan kognitif.
Yang perlu diperhatikan adalah perubahan yang terjadi secara konsisten pada kehidupan sehari-hari. Jika seseorang semakin jarang menikmati aktivitas offline hanya karena merasa harus terus terhubung dengan layar, keseimbangan penggunaan teknologi mulai menjadi persoalan. Dalam konteks ini, kemampuan untuk merasa nyaman tanpa rangsangan digital menjadi salah satu hal yang penting untuk dipelihara.
Fenomena tersebut juga berhubungan dengan pembahasan tentang kebosanan yang sebelumnya telah dibahas BERITANDA.ID. Kemampuan membiarkan diri berada dalam keadaan tanpa rangsangan terus-menerus dapat memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat dan berpindah dari mode konsumsi informasi. Karena itu, mengurangi penggunaan layar tidak selalu berarti kehilangan sesuatu; dalam situasi tertentu, justru dapat memberi kembali ruang yang sebelumnya diambil oleh arus konten digital.
Indikator yang paling penting bukanlah jumlah video yang ditonton atau berapa kali seseorang membuka aplikasi, melainkan dampaknya terhadap kehidupan nyata. Penggunaan digital patut dievaluasi ketika mulai mengganggu tidur, pekerjaan, pendidikan, aktivitas fisik, hubungan dengan orang lain, atau kewajiban sehari-hari. Dampak fungsional seperti ini memberikan gambaran yang lebih bermakna daripada sekadar memberikan label brain rot kepada seseorang.
Seseorang juga dapat memperhatikan apakah dirinya semakin sulit mengendalikan penggunaan perangkat meskipun sudah menyadari konsekuensinya. Misalnya, terus menggunakan media sosial sampai larut malam meskipun mengetahui bahwa tidur akan terganggu, atau berulang kali membuka aplikasi ketika sedang menyelesaikan pekerjaan penting. Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus dan menyebabkan gangguan nyata, masalahnya sudah lebih dari sekadar kebiasaan menonton konten receh.
Pada akhirnya, tanda-tanda tersebut sebaiknya digunakan sebagai bahan evaluasi diri, bukan sebagai alat untuk mendiagnosis diri sendiri. Jika perubahan konsentrasi, suasana hati, tidur, memori, atau fungsi sehari-hari terasa berat dan menetap, penyebabnya dapat sangat beragam dan membutuhkan penilaian profesional bila diperlukan. Dengan pendekatan seperti ini, pembahasan tentang brain rot tetap kritis tanpa mengubah istilah populer internet menjadi diagnosis medis yang sebenarnya tidak ada.
Jawaban singkatnya adalah tidak dalam arti harfiah. Brain rot bukan istilah medis untuk kondisi ketika jaringan otak mengalami pembusukan, dan Oxford sendiri menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan anggapan mengenai kemerosotan kondisi mental atau intelektual akibat konsumsi berlebihan terhadap konten yang dianggap dangkal atau tidak menantang. Karena itu, istilah ini lebih tepat dipahami sebagai bahasa populer untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap pola konsumsi digital.
Masalahnya menjadi lebih rumit karena beberapa kebiasaan yang sering disebut sebagai brain rot memang sedang diteliti dalam ilmu psikologi dan ilmu saraf. Penggunaan media sosial yang berlebihan, perpindahan perhatian yang terlalu sering, kurang tidur, dan pola konsumsi digital kompulsif dapat berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan dan fungsi kognitif. Namun, hubungan tersebut tidak berarti semua pengguna media sosial mengalami kerusakan otak atau bahwa satu jenis konten tertentu secara langsung menyebabkan kondisi tersebut.
Tidak ada diagnosis klinis bernama brain rot yang digunakan untuk menetapkan seseorang mengalami gangguan otak akibat media sosial. Istilah tersebut justru menjadi populer karena mampu merangkum kegelisahan masyarakat terhadap budaya digital dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Oxford bahkan mencatat bahwa penggunaan modernnya sering bersifat humoris, terutama ketika orang menggambarkan dirinya sendiri setelah terlalu lama mengonsumsi konten internet.
Perbedaan antara istilah populer dan diagnosis medis penting untuk dipahami karena keduanya memiliki standar pembuktian yang berbeda. Sebuah istilah dapat menggambarkan pengalaman yang dirasakan banyak orang tanpa membuktikan adanya satu penyakit dengan mekanisme biologis yang sama pada setiap individu. Dalam kasus brain rot, penelitian lebih banyak membahas perilaku dan konsekuensi penggunaan digital yang berlebihan daripada menemukan penyakit baru bernama brain rot.
Karena itu, kalimat seperti “media sosial membuat otak membusuk” terlalu menyederhanakan persoalan. Pernyataan yang lebih sesuai dengan bukti adalah bahwa pola penggunaan digital tertentu dapat berkaitan dengan perhatian, tidur, kesehatan mental, dan perilaku, sementara kekuatan hubungan tersebut berbeda-beda tergantung penelitian dan kondisi pengguna.
Penelitian mengenai penggunaan media sosial dan konsumsi konten digital menunjukkan adanya sejumlah hubungan yang perlu diperhatikan. Rapid review terhadap 35 penelitian mengenai fenomena yang berkaitan dengan brain rot, misalnya, menemukan bahwa digital addiction, penggunaan layar berlebihan, doomscrolling, dan zombie scrolling menjadi tema yang sering muncul dalam literatur. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pola penggunaan digital merupakan persoalan penelitian yang nyata, meskipun istilah brain rot sendiri bukan diagnosis ilmiah.
Penelitian tentang perhatian juga memberikan konteks penting. Studi Gloria Mark menunjukkan bahwa manusia semakin sering berpindah perhatian ketika berinteraksi dengan layar, tetapi hal tersebut tidak dapat diterjemahkan sebagai bukti bahwa kemampuan otak manusia telah mengalami kerusakan permanen. Perpindahan perhatian merupakan perilaku yang dipengaruhi oleh lingkungan, desain teknologi, tugas yang sedang dilakukan, dan kebiasaan individu.
Karena itu, fokus penelitian sebaiknya diarahkan pada mekanisme yang dapat diukur. Para peneliti dapat mengamati durasi penggunaan, frekuensi perpindahan perhatian, kualitas tidur, perilaku kompulsif, kemampuan menyelesaikan tugas, atau perubahan kondisi psikologis. Pendekatan seperti ini jauh lebih informatif daripada mencoba membuktikan apakah seseorang secara harfiah mengalami “pembusukan otak”.
Klaim bahwa media sosial menyebabkan kerusakan otak permanen mudah menjadi viral karena terdengar sederhana dan menakutkan. Namun, hubungan antara teknologi dan fungsi kognitif jauh lebih kompleks daripada hubungan sebab-akibat satu arah. Penggunaan perangkat dapat dipengaruhi oleh kondisi psikologis seseorang, sementara kondisi tersebut pada saat yang sama juga dapat memengaruhi bagaimana dan seberapa lama seseorang menggunakan media sosial.
Contohnya, seseorang yang sedang stres atau kesepian mungkin lebih sering menggunakan media sosial untuk mencari hiburan atau interaksi. Jika kemudian orang tersebut mengalami masalah tidur dan konsentrasi, tidak tepat langsung menyimpulkan bahwa media sosial merupakan satu-satunya penyebabnya. Faktor seperti stres, pola tidur, lingkungan sosial, aktivitas fisik, dan kondisi individu juga perlu dipertimbangkan.
Hal yang sama berlaku untuk klaim mengenai gangguan perkembangan otak atau demensia dini. Ada penelitian yang mengeksplorasi hubungan antara penggunaan media digital, kesehatan mental, dan fungsi kognitif, tetapi bukti mengenai dampak jangka panjang yang sangat serius tersebut masih berkembang. Karena itu, klaim bahwa brain rot pasti menyebabkan kerusakan otak permanen atau demensia dini tidak memiliki dasar yang cukup kuat untuk disampaikan sebagai fakta.
Pendekatan yang lebih masuk akal adalah melihat brain rot sebagai istilah budaya yang membantu kita membicarakan masalah yang nyata: bagaimana manusia mengelola perhatian di tengah lingkungan digital yang dirancang untuk menyediakan rangsangan tanpa henti. Jika penggunaan media sosial mulai mengganggu tidur, pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, atau kemampuan seseorang mengendalikan kebiasaannya sendiri, kondisi tersebut layak diperhatikan tanpa perlu menunggu adanya label medis bernama brain rot.
Menariknya, kesadaran mengenai brain rot tidak hanya datang dari orang tua, peneliti, atau pengamat teknologi. Sebagian anak muda sendiri mulai mempertanyakan kebiasaan mereka menghabiskan waktu di depan layar dan mencari cara untuk mengurangi ketergantungan pada media sosial. Respons tersebut menunjukkan bahwa generasi yang sering dianggap paling dekat dengan teknologi juga mampu bersikap kritis terhadap lingkungan digital yang mereka gunakan.
Fenomena ini terlihat dari meningkatnya perhatian terhadap digital detox, slow living, aktivitas tanpa ponsel, hingga berbagai bentuk kehidupan yang lebih “analog”. Perubahan tersebut tidak berarti Gen Z ingin meninggalkan teknologi sepenuhnya, tetapi menunjukkan adanya keinginan untuk mendapatkan kembali kendali atas waktu, perhatian, dan aktivitas di luar layar. Penelitian terhadap Gen Z di Indonesia pada 2026 juga menemukan bahwa keinginan melakukan digital detox berkaitan dengan persepsi kelebihan informasi, nilai kehidupan yang lebih bermakna, norma sosial, dan keyakinan seseorang bahwa mereka mampu mengendalikan penggunaan media sosial.
Digital detox pada dasarnya merupakan upaya sadar untuk mengurangi atau menghentikan sementara penggunaan perangkat dan layanan digital tertentu. Bentuknya tidak harus ekstrem seperti menghapus seluruh akun media sosial atau menggunakan ponsel sederhana secara permanen. Seseorang dapat memulainya dengan mematikan notifikasi, menetapkan batas waktu penggunaan, menghapus aplikasi yang paling banyak menghabiskan perhatian, atau menyediakan periode tertentu tanpa media sosial.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Societies pada 2026 secara khusus mengkaji niat melakukan digital detox pada Gen Z di Indonesia. Penelitian tersebut menemukan bahwa persepsi terhadap kelebihan informasi dan nilai yang berkaitan dengan kesejahteraan serta perkembangan diri berhubungan positif dengan niat melakukan digital detox, sementara self-efficacy atau keyakinan bahwa seseorang mampu mengendalikan perilakunya menjadi salah satu mekanisme penting dalam keputusan tersebut.
Temuan tersebut menarik jika dilihat dari perspektif sosiologi. Digital detox bukan hanya keputusan individual untuk mengurangi waktu layar, tetapi juga dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan sosial yang menuntut seseorang terus terhubung. Ketika konektivitas mulai dianggap melelahkan, membatasi penggunaan media sosial dapat menjadi cara untuk menetapkan kembali batas antara kehidupan digital dan kehidupan sehari-hari.
Respons terhadap kelelahan digital juga terlihat melalui ketertarikan pada aktivitas yang lebih sederhana dan tidak terlalu bergantung pada perangkat. Silent walking, misalnya, dilakukan dengan berjalan tanpa terus-menerus mendengarkan musik, podcast, atau memeriksa ponsel. Sementara itu, slow living lebih luas sebagai gagasan untuk menjalani aktivitas dengan lebih sadar dan tidak selalu mengejar kecepatan, produktivitas, atau rangsangan baru.
Di Indonesia, fenomena digital detox dan aktivitas offline juga semakin sering dibicarakan pada 2026. Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan menyoroti munculnya gaya hidup Slo-Mo dan digital detox sebagai respons terhadap kehidupan yang semakin terhubung secara digital. Media publik seperti RRI juga melaporkan meningkatnya minat anak muda untuk “offline sejenak”, termasuk membaca buku fisik dan berjalan tanpa perangkat audio.
Namun, tren tersebut tidak perlu dianggap sebagai bukti bahwa semua Gen Z sedang meninggalkan media sosial. Sebagian orang mungkin hanya mengurangi penggunaannya, sementara yang lain tetap aktif tetapi mulai membuat batas yang lebih jelas. Perubahan kecil seperti makan tanpa membuka ponsel, berjalan tanpa terus memeriksa notifikasi, atau menyediakan waktu untuk membaca dapat memiliki makna yang lebih penting daripada mengikuti tren digital detox secara ekstrem.
Ketertarikan terhadap aktivitas offline pada akhirnya menunjukkan kebutuhan yang cukup sederhana: mendapatkan kembali pengalaman yang tidak selalu dirancang untuk mempertahankan perhatian. Membaca buku, berolahraga, memasak, berbicara langsung dengan teman, berjalan kaki, atau sekadar duduk tanpa membuka layar memiliki ritme yang berbeda dari feed media sosial. Aktivitas semacam ini tidak terus-menerus menawarkan rangsangan baru sehingga pengguna memiliki kesempatan untuk membiarkan perhatian bekerja dengan cara yang lebih tenang.
Dalam konteks ini, slow living bukan berarti menolak teknologi atau kembali sepenuhnya ke kehidupan sebelum internet. Justru, gagasannya dapat dipahami sebagai usaha memilih kapan teknologi digunakan dan kapan seseorang memberi ruang untuk aktivitas lain. Teknologi tetap menjadi bagian dari kehidupan, tetapi tidak harus mengisi setiap jeda yang muncul sepanjang hari.
Fenomena tersebut juga memperlihatkan sesuatu yang menarik: kritik terhadap budaya digital tidak selalu datang dari luar teknologi. Anak muda yang tumbuh bersama media sosial justru ikut menciptakan bahasa dan kebiasaan untuk mengkritik penggunaan yang mereka anggap berlebihan. Karena itu, munculnya digital detox, silent walking, dan slow living dapat dibaca sebagai bentuk negosiasi sosial terhadap kehidupan yang semakin terdigitalisasi, bukan sekadar tren gaya hidup sementara.
Pada akhirnya, kesadaran terhadap brain rot mungkin justru memiliki sisi positif ketika mendorong seseorang mengevaluasi kembali hubungan mereka dengan teknologi. Tujuannya bukan menghilangkan internet dari kehidupan, melainkan memastikan bahwa seseorang masih dapat memilih kapan harus terhubung dan kapan boleh berhenti. Dalam dunia yang semakin pandai merebut perhatian manusia, kemampuan untuk mengambil jeda bisa menjadi bentuk kendali yang sederhana tetapi penting.
Brain rot bukan istilah medis yang berarti otak benar-benar mengalami pembusukan. Istilah ini lebih tepat dipahami sebagai bahasa populer untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap konsumsi konten digital secara berlebihan, terutama ketika konten yang cepat, repetitif, dan minim tantangan intelektual mulai mendominasi waktu seseorang. Menariknya, istilah yang kini sangat lekat dengan budaya internet tersebut ternyata sudah digunakan sejak 1854 oleh Henry David Thoreau.
Di era media sosial, persoalan yang dibicarakan melalui istilah brain rot menjadi semakin relevan karena cara manusia mengonsumsi informasi telah berubah. Feed tanpa akhir, rekomendasi personal, video pendek, dan perpindahan perhatian yang cepat dapat membuat seseorang terus menerima rangsangan baru tanpa memiliki titik berhenti yang jelas. Namun, penelitian yang ada belum membenarkan kesimpulan sederhana bahwa media sosial secara otomatis membuat otak rusak.
Yang lebih penting adalah memperhatikan pola penggunaan dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang mulai sulit mengendalikan waktu di depan layar, kehilangan keseimbangan antara aktivitas digital dan offline, atau mengalami gangguan pada tidur, pekerjaan, pendidikan, dan hubungan sosial, kebiasaan tersebut layak dievaluasi. Istilah brain rot dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan tersebut, tetapi tidak seharusnya digunakan sebagai diagnosis.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan memilih antara teknologi atau kehidupan tanpa teknologi. Tantangannya adalah memastikan teknologi tetap menjadi alat yang digunakan secara sadar, bukan sistem yang secara terus-menerus menentukan ke mana perhatian kita diarahkan. Munculnya tren digital detox, slow living, dan aktivitas offline di kalangan anak muda menunjukkan bahwa kesadaran untuk mengambil kembali kendali tersebut sudah mulai tumbuh.