Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menemukan sekitar 1 juta kasus hipertensi dari masyarakat yang pada pemeriksaan tahun sebelumnya masih tercatat dalam kondisi sehat.
Temuan tersebut menjadi salah satu hasil penting evaluasi pelaksanaan CKG 2026 yang disampaikan Kementerian Kesehatan. Data ini menunjukkan bahwa kondisi kesehatan seseorang dapat berubah dalam waktu relatif singkat, bahkan ketika sebelumnya tidak memiliki catatan masalah kesehatan.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan tidak cukup dilakukan hanya ketika seseorang sudah merasakan keluhan.
Dalam evaluasi CKG, Kementerian Kesehatan melakukan pemeriksaan ulang terhadap peserta yang sebelumnya telah mengikuti program pada 2025.
Dari sekitar 9,2 juta peserta yang pada pemeriksaan sebelumnya tercatat sehat, pemeriksaan ulang tahun ini menemukan sekitar 1 juta kasus hipertensi.
Angka tersebut memperlihatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala. Status sehat pada satu pemeriksaan tidak selalu berarti seseorang akan tetap bebas dari masalah kesehatan pada tahun berikutnya.
Perubahan kondisi dapat terjadi karena berbagai faktor, termasuk pola makan, aktivitas fisik, berat badan, faktor genetik, usia, maupun kondisi kesehatan lain. Karena itu, hasil pemeriksaan kesehatan sebaiknya dipandang sebagai gambaran kondisi pada saat pemeriksaan, bukan sebagai jaminan bahwa penyakit tidak akan muncul di kemudian hari.
Temuan CKG tersebut juga menunjukkan alasan mengapa pemerintah mendorong masyarakat untuk mengikuti pemeriksaan secara rutin.
Seseorang bisa merasa sehat tanpa menyadari bahwa tekanan darahnya sudah berada di atas batas normal.
Selain kasus hipertensi, pemeriksaan ulang juga menemukan perubahan pada peserta yang sebelumnya berada dalam kategori prehipertensi.
Dari sekitar 1,3 juta peserta yang sebelumnya tercatat mengalami prehipertensi dan menjalani pemeriksaan ulang, sekitar 247 ribu orang kini masuk dalam kategori hipertensi.
Kondisi ini menjadi perhatian karena tekanan darah yang berada di atas normal belum tentu langsung menimbulkan gejala yang dirasakan oleh seseorang.
Tanpa pemeriksaan, seseorang dapat saja merasa baik-baik saja meskipun tekanan darahnya sudah mengalami perubahan.
Karena itu, pemeriksaan ulang memiliki fungsi penting: bukan hanya menemukan orang yang sedang sakit, tetapi juga melihat apakah kondisi seseorang membaik, tetap, atau berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
Secara keseluruhan, hasil CKG hingga 31 Juli 2026 menunjukkan bahwa sekitar 4,9 juta peserta ditemukan mengalami hipertensi.
Sementara itu, sekitar 5,5 juta peserta lainnya berada dalam kategori prehipertensi.
Data tersebut menunjukkan bahwa masalah tekanan darah menjadi salah satu temuan penting dalam pelaksanaan CKG.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, dr. Maria Endang Sumiwi, MPH, mengingatkan bahwa hipertensi yang tidak dikendalikan dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal.
Dengan demikian, menemukan hipertensi melalui pemeriksaan bukanlah akhir dari proses.
Justru dari sinilah penanganan seharusnya dimulai.
Salah satu alasan pemeriksaan kesehatan menjadi penting adalah karena sejumlah penyakit tidak menular dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Hipertensi merupakan salah satu contohnya.
Seseorang dapat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, bekerja, berolahraga, bahkan merasa tubuhnya baik-baik saja meskipun tekanan darahnya sudah berada pada tingkat yang perlu diperhatikan.
Hal serupa juga berlaku pada diabetes. Pemeriksaan dapat membantu menemukan perubahan kadar gula darah yang mungkin belum disadari oleh orang yang bersangkutan.
Dalam evaluasi CKG 2026, sekitar 992 ribu peserta ditemukan mengalami diabetes, sementara sekitar 1,9 juta peserta berada dalam kategori prediabetes.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pemeriksaan kesehatan memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mencari penyakit yang sudah menimbulkan keluhan.
Tujuannya adalah menemukan masalah lebih awal, ketika masih ada kesempatan untuk mengendalikannya sebelum berkembang menjadi komplikasi.
Besarnya temuan tersebut perlu dilihat dalam konteks cakupan program yang juga semakin luas.
Hingga 31 Juli 2026, sebanyak 73,8 juta masyarakat telah mengikuti CKG. Jumlah tersebut bahkan telah melampaui total peserta sepanjang 2025 yang berada di kisaran 70 juta orang, meskipun 2026 baru memasuki bulan ketujuh.
Pemerintah menargetkan cakupan CKG sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar 130 juta orang, atau sekitar 46 persen dari total populasi Indonesia.
Semakin besar jumlah masyarakat yang diperiksa, semakin banyak pula kondisi kesehatan yang sebelumnya tidak diketahui dapat ditemukan.
Namun, keberhasilan program tidak semestinya hanya diukur dari jumlah peserta.
Temuan kasus baru harus diikuti dengan tindakan yang tepat agar pemeriksaan benar-benar menghasilkan perubahan terhadap kondisi kesehatan masyarakat.
Hal inilah yang kemudian menjadi fokus baru CKG pada tahun kedua pelaksanaannya.
Pada 2025, CKG lebih banyak berfungsi sebagai program skrining untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat.
Memasuki 2026, pemerintah mulai menggeser fokusnya ke tahap berikutnya, yaitu tata laksana dan penanganan hasil pemeriksaan.
Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa masyarakat yang ditemukan memiliki masalah kesehatan tidak hanya mendapatkan hasil pemeriksaan, tetapi juga diarahkan untuk memperoleh penanganan. Pemerintah bahkan menjamin pengobatan gratis selama 15 hari pertama bagi masyarakat yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan melalui CKG. 1
Untuk kasus tertentu seperti hipertensi dan diabetes, Kemenkes juga menyatakan bahwa pasien akan mendapatkan obat di Puskesmas pada hari yang sama ketika kondisi tersebut terdeteksi, sesuai indikasi medis. 2
Perubahan ini penting karena menemukan satu juta kasus baru hipertensi tidak akan banyak berarti jika masyarakat yang terdeteksi kemudian tidak mendapatkan tindak lanjut.
Dengan kata lain, tantangan CKG 2026 bukan lagi hanya berapa banyak orang yang berhasil diperiksa, tetapi juga berapa banyak orang yang berhasil ditangani setelah masalah kesehatannya ditemukan.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus memperluas jangkauannya sepanjang 2026.
Hingga 31 Juli 2026, sebanyak 73,8 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan kesehatan melalui program tersebut. Jumlah ini bahkan telah melampaui total peserta sepanjang 2025 yang berada di kisaran 70 juta orang.
Pemerintah menargetkan CKG dapat menjangkau sekitar 130 juta orang sepanjang 2026, atau sekitar 46 persen dari total populasi Indonesia.
Besarnya cakupan tersebut membuat CKG tidak hanya menjadi program pemeriksaan individual, tetapi juga menghasilkan gambaran yang semakin luas mengenai kondisi kesehatan masyarakat Indonesia.
Dari pemeriksaan yang telah dilakukan, pemeriksaan tekanan darah dan Indeks Massa Tubuh (IMT) telah mencakup sekitar 90 persen dari sasaran.
Sementara itu, pemeriksaan gula darah telah mencapai sekitar 83 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar peserta telah mendapatkan pemeriksaan terhadap sejumlah faktor risiko penting penyakit tidak menular.
Namun, tidak seluruh jenis pemeriksaan memiliki tingkat cakupan yang sama.
Pemeriksaan profil lemak darah, yang mencakup antara lain kolesterol total, HDL, dan LDL, masih berada di bawah 50 persen.
Kesenjangan cakupan tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam evaluasi pelaksanaan CKG berikutnya.
Profil lemak darah penting karena kadar kolesterol yang tidak terkendali dapat menjadi salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular. Kementerian Kesehatan sendiri menempatkan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan obesitas sebagai indikator penting yang perlu diperhatikan dalam pencegahan penyakit tidak menular.
Dari puluhan juta peserta yang telah diperiksa, sekitar 4,9 juta orang ditemukan mengalami hipertensi.
Selain itu, sekitar 5,5 juta peserta berada dalam kategori prehipertensi.
Artinya, selain kelompok yang sudah masuk kategori penyakit, terdapat pula jutaan orang yang memiliki tekanan darah di atas normal dan membutuhkan perhatian agar kondisinya tidak berkembang lebih lanjut.
Temuan ini menjadi semakin penting karena hipertensi sering kali tidak disertai gejala yang dirasakan secara jelas.
Seseorang dapat tetap beraktivitas seperti biasa tanpa menyadari bahwa tekanan darahnya sudah berada pada tingkat yang perlu dikendalikan.
Kementerian Kesehatan menyebut hipertensi dan diabetes sebagai kondisi yang dapat berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan menjadi salah satu cara untuk menemukan masalah sebelum berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius. 1
Masalah kesehatan yang ditemukan melalui CKG tidak hanya berkaitan dengan tekanan darah.
Sekitar 992 ribu peserta ditemukan mengalami diabetes, sementara sekitar 1,9 juta peserta lainnya berada dalam kategori prediabetes.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa gangguan metabolik juga menjadi bagian penting dari gambaran kesehatan masyarakat yang muncul melalui program CKG.
Seperti halnya hipertensi, diabetes pada tahap awal tidak selalu membuat seseorang merasa sedang sakit.
Karena itu, pemeriksaan kadar gula darah dapat membantu menemukan kondisi yang sebelumnya belum diketahui oleh peserta.
Kelompok prediabetes juga perlu mendapatkan perhatian karena kondisi tersebut menunjukkan adanya risiko yang lebih tinggi untuk berkembang menjadi diabetes apabila faktor risikonya tidak dikendalikan.
Selain hipertensi dan diabetes, CKG juga menemukan sekitar 11 juta peserta mengalami obesitas.
Angka ini menunjukkan bahwa persoalan berat badan juga menjadi bagian penting dari tantangan kesehatan masyarakat Indonesia.
Obesitas tidak hanya berkaitan dengan penampilan atau berat badan seseorang. Kondisi tersebut dapat berjalan bersama berbagai faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk tekanan darah tinggi dan gangguan metabolisme gula darah.
Karena itu, pemeriksaan berat badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT) menjadi bagian penting dalam pendekatan pencegahan.
Namun, hasil IMT juga perlu dipahami secara tepat dan tidak digunakan sebagai satu-satunya ukuran kondisi kesehatan seseorang. Penilaian medis tetap perlu mempertimbangkan kondisi individu dan faktor risiko lainnya.
Evaluasi CKG juga menunjukkan bahwa masalah kesehatan masyarakat tidak sama pada setiap kelompok usia.
Berdasarkan evaluasi pelaksanaan CKG 2025 yang menjadi dasar strategi 2026, Kementerian Kesehatan mencatat sejumlah temuan pada berbagai kelompok usia.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan tidak hanya muncul ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Faktor risiko sudah dapat terlihat sejak usia anak dan remaja.
Karena itu, pendekatan kesehatan masyarakat tidak cukup jika hanya berfokus pada pengobatan orang yang sudah sakit. Pencegahan dan perubahan perilaku perlu dimulai lebih awal.
Kementerian Kesehatan juga menekankan bahwa data hasil CKG dapat digunakan untuk menyusun intervensi yang lebih spesifik berdasarkan kelompok usia. Masalah kesehatan anak sekolah, remaja, dewasa, dan lansia tidak selalu sama sehingga pendekatan penanganannya pun perlu disesuaikan. 2
Besarnya jumlah temuan kesehatan tersebut kemudian membawa CKG memasuki tahap baru pada 2026.
Pada tahun pertama pelaksanaan, program lebih banyak berfungsi sebagai sarana skrining untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat.
Memasuki tahun kedua, pemerintah mulai memberikan perhatian lebih besar pada tata laksana, pengobatan, dan pengendalian penyakit.
Perubahan ini penting karena tujuan akhir pemeriksaan bukan sekadar menghasilkan angka jumlah penderita.
Jika jutaan orang terdeteksi hipertensi tetapi tidak mendapatkan pengobatan atau pendampingan yang sesuai, manfaat skrining akan menjadi terbatas.
Sebaliknya, jika orang yang terdeteksi dapat segera mendapatkan penanganan dan mampu mengendalikan kondisinya, pemeriksaan tersebut dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap kesehatan masyarakat.
Data CKG juga tidak seluruhnya berisi temuan kasus baru atau kondisi yang memburuk.
Dari sekitar 2,4 juta penderita hipertensi yang menjalani pemeriksaan ulang, sekitar 1,1 juta orang berhasil mengendalikan tekanan darahnya kembali ke kisaran normal.
Temuan ini menunjukkan bahwa diagnosis bukanlah akhir dari perjalanan kesehatan.
Ketika seseorang mengetahui kondisinya lebih awal dan mendapatkan penanganan yang sesuai, kondisi tersebut dapat dikendalikan.
Kementerian Kesehatan juga melaporkan bahwa dari peserta CKG 2025 yang kembali diperiksa pada 2026, sekitar 46,9 persen pasien hipertensi yang melakukan pemeriksaan ulang telah berhasil mengendalikan tekanan darahnya. Pada kelompok diabetes, sekitar 69,4 persen dari peserta yang kembali diperiksa telah mencapai pengendalian kadar gula darah. 3
Karena itu, keberhasilan CKG seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa banyak penyakit yang ditemukan.
Yang tidak kalah penting adalah berapa banyak orang yang setelah mengetahui kondisinya kemudian berhasil mengendalikannya.
Di sinilah perubahan fokus CKG 2026 menjadi penting: dari sekadar menemukan masalah kesehatan menuju memastikan masyarakat mendapatkan tindak lanjut yang diperlukan.
Besarnya jumlah temuan dari CKG membuat pemerintah tidak lagi hanya berfokus pada kegiatan pemeriksaan.
Memasuki tahun kedua, program ini mulai diarahkan pada tindak lanjut hasil pemeriksaan. Artinya, masyarakat yang ditemukan memiliki masalah kesehatan diharapkan tidak berhenti pada menerima hasil pemeriksaan, tetapi mendapatkan penanganan sesuai kondisi medisnya.
Kementerian Kesehatan menyebut perubahan fokus tersebut sebagai pergeseran dari skrining menuju tata laksana.
Pergeseran ini menjadi penting karena hasil CKG menunjukkan bahwa banyak masyarakat memiliki kondisi kesehatan yang sebelumnya tidak mereka ketahui.
Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah mekanisme penanganan pasien yang ditemukan mengalami hipertensi atau diabetes.
Mulai 2026, Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa pasien yang terdeteksi mengalami hipertensi dan diabetes dapat memperoleh obat di Puskesmas pada hari yang sama, sesuai hasil pemeriksaan dan indikasi medis.
Dengan mekanisme tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi bahwa tekanan darah atau kadar gula darahnya bermasalah.
Mereka juga dapat langsung masuk ke tahap penanganan.
Namun, pemberian obat tetap merupakan keputusan medis. Hasil pemeriksaan CKG tidak berarti setiap orang otomatis mendapatkan obat tertentu. Tenaga kesehatan akan menentukan penanganan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Pemerintah juga menyediakan pengobatan gratis selama 15 hari pertama bagi peserta yang membutuhkan penanganan setelah mengikuti CKG, sesuai ketentuan program dan indikasi medis.
Setelah periode tersebut, pelayanan dapat dilanjutkan melalui mekanisme Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sesuai status kepesertaan dan ketentuan yang berlaku.
Kebijakan ini dirancang agar hasil pemeriksaan tidak berhenti sebagai data.
Jika seseorang baru mengetahui dirinya mengalami hipertensi atau diabetes melalui CKG, ada jalur yang dapat digunakan untuk mulai mendapatkan penanganan.
Dengan demikian, pemerintah mencoba membangun rangkaian yang lebih lengkap:
Dalam pengendalian penyakit tidak menular, Kementerian Kesehatan memberikan perhatian khusus pada tiga faktor risiko utama, yaitu tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi.
Ketiganya dapat berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular dan komplikasi kesehatan lainnya.
Karena itu, pemeriksaan tidak hanya ditujukan kepada kelompok usia tertentu.
Pendekatan CKG mencakup masyarakat dari berbagai kelompok umur, mulai dari anak sekolah, remaja, dewasa, hingga lansia, dengan jenis pemeriksaan yang disesuaikan dengan kelompok usia dan faktor risikonya.
Strategi tersebut menunjukkan perubahan cara pemerintah melihat penyakit tidak menular.
Pencegahan tidak seharusnya baru dimulai ketika seseorang sudah mengalami komplikasi.
Semakin awal faktor risiko ditemukan, semakin besar kesempatan untuk mengendalikannya.
Temuan sekitar 1 juta kasus hipertensi baru dari peserta yang sebelumnya tercatat sehat memberikan satu pesan penting.
Kondisi kesehatan tidak bersifat permanen.
Seseorang yang hasil pemeriksaannya baik pada tahun sebelumnya tetap dapat mengalami perubahan kondisi pada tahun berikutnya.
Karena itu, hasil CKG sebaiknya tidak dipahami sebagai sertifikat bahwa seseorang akan selalu sehat.
Hasil tersebut lebih tepat dipandang sebagai gambaran kondisi kesehatan pada saat pemeriksaan.
Jika pemeriksaan dilakukan kembali secara berkala, perubahan kondisi dapat diketahui lebih awal.
Inilah alasan Kementerian Kesehatan mendorong masyarakat untuk mengikuti CKG secara rutin.
Masyarakat yang ingin mengikuti program Cek Kesehatan Gratis dapat mencari informasi dan melakukan pendaftaran melalui kanal resmi Kementerian Kesehatan.
Untuk program CKG yang berkaitan dengan satuan pendidikan, informasi pendaftaran juga tersedia melalui ayockg.kemkes.go.id.
Karena mekanisme dan sasaran pemeriksaan dapat berbeda berdasarkan kelompok usia maupun lokasi pelayanan, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi terbaru dari fasilitas kesehatan dan kanal resmi Kementerian Kesehatan.
Informasi mengenai layanan Kementerian Kesehatan juga dapat diperoleh melalui Halo Kemenkes 1500-567.
Dengan 73,8 juta peserta hingga akhir Juli, pemerintah masih mengejar target sekitar 130 juta peserta sepanjang 2026.
Target tersebut setara dengan sekitar 46 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
Artinya, masih terdapat puluhan juta masyarakat yang perlu dijangkau agar sasaran tersebut tercapai.
Tantangan CKG ke depan bukan hanya memperluas jumlah peserta, tetapi juga memastikan bahwa peningkatan cakupan pemeriksaan diikuti dengan kemampuan fasilitas kesehatan untuk menangani hasil pemeriksaan.
Semakin banyak masyarakat yang diperiksa, semakin besar pula kebutuhan terhadap tenaga kesehatan, obat, sistem pencatatan, rujukan, serta pemantauan pasien.
Dengan kata lain, keberhasilan CKG 2026 akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah membangun rantai layanan kesehatan setelah skrining.
Temuan jutaan kasus hipertensi, diabetes, prediabetes, dan obesitas membuat CKG memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis.
Program ini secara tidak langsung menjadi salah satu cara untuk memetakan masalah kesehatan masyarakat dalam skala besar.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, pemerintah dapat mengetahui kelompok usia mana yang membutuhkan perhatian lebih besar, penyakit apa yang paling banyak ditemukan, dan faktor risiko apa yang perlu dikendalikan.
Namun, nilai terbesar program tersebut tetap berada pada tahap setelah pemeriksaan.
Jika seseorang mengetahui dirinya memiliki tekanan darah tinggi tetapi kemudian tidak mendapatkan penanganan, manfaat pemeriksaan menjadi terbatas.
Sebaliknya, jika seseorang mengetahui kondisinya lebih awal, mendapatkan penanganan yang sesuai, dan mampu menjaga kondisinya tetap terkendali, maka CKG benar-benar menghasilkan perubahan bagi individu tersebut.
Temuan sekitar 1 juta kasus hipertensi dari peserta yang tahun sebelumnya tercatat sehat bukan berarti satu juta orang tersebut baru “menjadi sakit” akibat mengikuti CKG.
Justru pemeriksaanlah yang memungkinkan kondisi yang sebelumnya belum diketahui menjadi terlihat.
Di sinilah fungsi utama skrining kesehatan.
Program kesehatan tidak hanya bertugas menemukan orang yang sudah merasa sakit, tetapi juga mencari kondisi yang mungkin belum menimbulkan keluhan.
Karena hipertensi dan diabetes dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal, menunggu sampai tubuh memberikan tanda bukanlah satu-satunya pendekatan yang dapat dilakukan.
CKG memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatan sebelum masalah tersebut berkembang lebih jauh.
Program Cek Kesehatan Gratis telah menjangkau 73,8 juta orang hingga 31 Juli 2026 dan menemukan jutaan kondisi kesehatan yang sebelumnya belum diketahui.
Temuan paling menonjol adalah sekitar 1 juta kasus hipertensi baru dari 9,2 juta peserta yang pada pemeriksaan sebelumnya tercatat sehat.
Selain hipertensi, CKG juga menemukan sekitar 5,5 juta peserta dengan prehipertensi, 992 ribu peserta dengan diabetes, 1,9 juta peserta dengan prediabetes, dan 11 juta peserta dengan obesitas.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan kesehatan masyarakat Indonesia tidak hanya berada pada penyakit yang sudah terlihat, tetapi juga pada faktor risiko dan kondisi yang berkembang tanpa disadari.
Karena itu, pada 2026 pemerintah mulai menggeser fokus CKG dari sekadar skrining menuju tata laksana dan pengobatan. Pasien dengan kondisi tertentu dapat memperoleh penanganan di Puskesmas, termasuk obat sesuai indikasi medis.
Pada akhirnya, keberhasilan CKG tidak cukup diukur dari berapa juta orang yang diperiksa.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat yang ditemukan memiliki masalah kesehatan benar-benar mendapatkan penanganan dan mampu mengendalikan kondisinya.
Temuan sekitar 1 juta kasus hipertensi baru juga memberikan pengingat sederhana: merasa sehat tidak selalu berarti seluruh kondisi kesehatan berada dalam keadaan baik.
Karena itu, pemeriksaan berkala tetap memiliki peran penting—bukan untuk membuat masyarakat takut terhadap penyakit, tetapi agar masalah kesehatan dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.