Ada sesuatu yang menarik dari cara kita membicarakan generasi sandwich. Ketika seorang anak membayar kebutuhan orang tua, membantu biaya pengobatan, membiayai kebutuhan adiknya, sekaligus memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri, kita sering menyebutnya sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Kata itu terdengar hangat dan mulia, tetapi jarang membuat kita berhenti untuk bertanya apakah tanggung jawab tersebut juga menyimpan beban yang tidak kecil.
Persoalannya menjadi lebih rumit ketika tanggung jawab itu berlangsung selama bertahun-tahun. Pendapatan harus dibagi untuk kebutuhan anak, pasangan, diri sendiri, dan orang tua yang semakin membutuhkan dukungan, sementara kemampuan untuk menabung atau mempersiapkan masa depan sendiri ikut terdesak. Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan tentang generasi sandwich tidak lagi sekadar soal kemampuan mengatur keuangan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat membagi tanggung jawab terhadap kehidupan di usia lanjut.
Pertanyaan itu bukan berarti mempertentangkan anak dengan orang tua. Merawat orang tua dapat menjadi bentuk kasih sayang, tanggung jawab, rasa syukur, dan nilai keluarga yang sangat berarti. Namun, ketika tanggung jawab tersebut hampir selalu dianggap sebagai kewajiban alami anak, kita mungkin perlu bertanya: mengapa risiko hari tua begitu sering menjadi urusan keluarga, bukan juga menjadi tanggung jawab sistem sosial yang lebih besar?
Generasi sandwich menggambarkan orang-orang yang berada di antara kebutuhan dua generasi. Mereka harus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dan keluarga inti, tetapi pada saat yang sama juga membantu atau menanggung kebutuhan orang tua maupun anggota keluarga dari generasi sebelumnya.
Di Indonesia, fenomena tersebut bukan sekadar persoalan yang dialami sebagian kecil keluarga. Survei Litbang Kompas pada Agustus 2022 memperkirakan sekitar 56 juta penduduk usia produktif berada dalam kondisi generasi sandwich. Angka tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab merawat atau menopang generasi sebelumnya telah menjadi pengalaman sosial yang cukup luas.
Besarnya jumlah tersebut menjadi semakin penting ketika dilihat bersama kondisi ekonomi kelompok yang mengalaminya. Menurut data yang dirujuk dari survei Litbang Kompas, sekitar separuh responden generasi sandwich berasal dari kelompok menengah-bawah. Pada kelompok ini, mayoritas mencatatkan belanja bulanan kurang dari Rp3 juta.
Artinya, menjadi generasi sandwich tidak selalu berarti seseorang memiliki pendapatan yang cukup untuk menopang beberapa anggota keluarga sekaligus. Sebaliknya, sebagian orang harus membagi sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan dari beberapa arah dalam waktu yang sama. Di sinilah istilah generasi sandwich mulai menunjukkan persoalan yang lebih besar daripada sekadar keputusan pribadi mengenai siapa yang harus membantu orang tua.
Dalam keluarga yang berada pada kondisi ekonomi terbatas, kebutuhan orang tua dapat hadir bersamaan dengan kebutuhan anak dan rumah tangga sendiri. Biaya makanan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari harus dipertimbangkan secara bersamaan, sementara pendapatan tidak selalu bertambah sebanding dengan jumlah tanggungan.
Kondisi tersebut membuat pilihan yang secara moral dianggap sederhana menjadi jauh lebih rumit dalam kehidupan nyata. Seorang anak mungkin merasa berkewajiban membantu orang tuanya, tetapi pada saat yang sama juga harus memikirkan masa depan anaknya sendiri dan kebutuhan rumah tangganya. Tidak ada satu keputusan yang selalu mudah ketika sumber daya yang tersedia terbatas.
Peneliti Litbang Kompas Debora Laksmi menyebut fenomena generasi sandwich dapat berlangsung hingga empat generasi. Beban ganda tersebut juga tidak hanya ditemukan pada kelompok sosial ekonomi tertentu, melainkan dapat menjangkiti berbagai lapisan masyarakat.
Jika pola tersebut terus berulang, persoalannya menjadi lebih menarik untuk dilihat sebagai sebuah siklus sosial. Generasi yang sekarang menanggung orang tua suatu hari akan memasuki usia lanjut, sementara anak-anak mereka berpotensi menghadapi tanggung jawab serupa. Pertanyaannya kemudian bukan hanya siapa yang harus berbakti kepada siapa, tetapi apakah pola pembagian tanggung jawab tersebut akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Jika generasi sandwich begitu luas, pertanyaan berikutnya adalah mengapa kebutuhan hidup di usia lanjut begitu sering kembali kepada keluarga. Tinggal bersama anak memang merupakan bagian dari pola kehidupan keluarga di Indonesia, tetapi kedekatan tersebut juga membuat keluarga menjadi penyangga utama ketika pendapatan, tabungan, atau perlindungan sosial lansia tidak cukup. Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata apakah anak bersedia membantu, melainkan seberapa besar tanggung jawab tersebut memang harus ditanggung keluarga.
Data BPS menunjukkan bahwa sekitar 64,62 persen penduduk lanjut usia tinggal bersama keluarga, baik dalam rumah tangga yang terdiri dari lansia dan anggota keluarga lain maupun dalam rumah tangga tiga generasi. Angka tersebut menggambarkan kuatnya peran keluarga dalam kehidupan lansia di Indonesia. Namun, tinggal bersama keluarga tidak otomatis berarti seorang lansia menjadi beban, karena hubungan tersebut juga dapat mencerminkan solidaritas, kedekatan emosional, dan pilihan hidup keluarga.
Masalahnya muncul ketika keluarga menjadi hampir satu-satunya tempat bergantung ketika kebutuhan lansia meningkat. Kebutuhan kesehatan, makanan, tempat tinggal, hingga perawatan sehari-hari dapat membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Jika tidak terdapat sumber pendapatan atau perlindungan sosial yang memadai, sebagian tanggung jawab tersebut akhirnya berpindah kepada anak yang sedang berada pada usia produktif.
Data yang dirujuk dari BPS menunjukkan bahwa hanya sekitar 4 persen lansia yang memiliki akses terhadap bantuan sosial. Sementara itu, hanya sekitar 14 persen lansia yang memiliki tabungan, jaminan hari tua, atau pensiun, dengan kepemilikan yang banyak berasal dari kelompok Aparatur Sipil Negara. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar lansia tidak memiliki sumber perlindungan finansial yang cukup kuat untuk sepenuhnya menghadapi kebutuhan hidup pada usia lanjut secara mandiri.
Situasi tersebut menjadi semakin kompleks karena sekitar 60 persen masyarakat Indonesia bekerja di sektor informal. Berbeda dengan sebagian pekerja formal yang memiliki akses terhadap program pensiun atau jaminan hari tua melalui pekerjaannya, pekerja informal menghadapi keterbatasan dalam membangun perlindungan finansial untuk masa tua. Ketika kelompok ini memasuki usia lanjut tanpa tabungan atau perlindungan yang memadai, keluarga berpotensi kembali menjadi tempat utama untuk menutup kebutuhan hidup.
Dalam konteks bantuan sosial, persoalannya juga bukan hanya apakah sebuah program tersedia, tetapi apakah lansia yang membutuhkan benar-benar tercatat dan dapat mengaksesnya. Masyarakat yang ingin mengetahui status penerimaan bantuan dapat menggunakan mekanisme cek bansos PKH dan BPNT secara online dengan NIK sebagai salah satu cara untuk memeriksa informasi bantuan yang tersedia.
Namun, bantuan sosial sendiri tidak dapat disamakan dengan sistem perlindungan hari tua yang menyeluruh. Bantuan dapat membantu memenuhi kebutuhan tertentu, sementara jaminan hari tua berkaitan dengan kemampuan seseorang mempertahankan kehidupan yang layak ketika tidak lagi memiliki kapasitas bekerja seperti sebelumnya. Perbedaan ini penting karena persoalan generasi sandwich pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang bantuan ketika seseorang sudah kesulitan, tetapi juga tentang bagaimana risiko ekonomi pada masa tua dipersiapkan jauh sebelum seseorang menjadi lansia.
Di sinilah nilai budaya mulai bertemu dengan persoalan struktural. Dalam masyarakat yang menganggap merawat orang tua sebagai bentuk kewajiban moral, bantuan dari anak dapat menjadi mekanisme perlindungan sosial informal yang sangat kuat. Nilai tersebut memiliki sisi positif karena menjaga hubungan antargenerasi, tetapi pada saat yang sama dapat membuat ketergantungan terhadap keluarga terlihat sebagai sesuatu yang sepenuhnya wajar.
Rahmawati, sebagaimana dikutip Alinea.id, menyebut budaya ketergantungan pada konsep berbakti kepada orang tua sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan lemahnya perlindungan masa tua, bersama rendahnya kesadaran tentang asuransi masa tua dan besarnya proporsi pekerja informal. Pernyataan tersebut tidak berarti bahwa budaya berbakti merupakan penyebab tunggal lemahnya perlindungan lansia. Namun, hal itu membuka pertanyaan yang lebih mendasar: apakah nilai bakti kepada orang tua tanpa disadari telah menjadi salah satu alasan mengapa risiko hari tua begitu mudah dikembalikan kepada keluarga?
Pertanyaan tersebut penting karena tanggung jawab keluarga dan tanggung jawab negara sebenarnya tidak harus saling meniadakan. Anak tetap dapat merawat orang tua karena kasih sayang dan nilai keluarga, sementara negara membangun sistem yang memastikan seseorang tidak kehilangan keamanan ekonomi hanya karena tidak memiliki anak yang mampu menanggung seluruh kebutuhannya. Dengan pembagian seperti itu, bakti dapat tetap menjadi nilai sosial tanpa harus menjadi satu-satunya jaring pengaman ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Merawat orang tua lanjut usia tidak selalu lahir dari keterpaksaan. Bagi banyak orang, keputusan tersebut merupakan bentuk kasih sayang, tanggung jawab, rasa syukur, dan keinginan membalas kebaikan orang tua. Karena itu, membicarakan generasi sandwich tidak tepat jika hanya menggunakan bahasa tentang “beban”. Ada nilai dan ikatan emosional yang membuat seseorang tetap memilih untuk merawat keluarganya.
Dalam kajian sosial, salah satu konsep yang membantu menjelaskan hal tersebut adalah filial piety, atau nilai bakti kepada orang tua. Konsep ini menggambarkan kewajiban moral dan sosial seseorang untuk menghormati, merawat, serta memberikan dukungan kepada orang tua, terutama ketika mereka memasuki usia lanjut.
Di Indonesia, nilai tersebut memiliki akar yang kuat dalam tradisi keluarga dan ajaran agama. Karena itu, ketika seorang anak membantu memenuhi kebutuhan orang tua, tindakan tersebut sering dipahami sebagai sesuatu yang wajar sekaligus bernilai moral.
Namun, di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks. Nilai bakti dapat hidup berdampingan dengan beban yang nyata.
Sebuah studi literatur sistematis yang mengkaji 30 artikel ilmiah periode 2018–2025 menunjukkan bahwa filial piety masih menjadi nilai dominan dalam perawatan lansia di Indonesia. Bentuknya memang mengalami perubahan. Motivasi merawat orang tua tidak hanya berasal dari kewajiban tradisional, tetapi juga dipengaruhi religiusitas, rasa syukur, kedekatan emosional, dan dinamika hubungan dalam keluarga.
Artinya, seseorang dapat merawat orang tua karena memang ingin melakukannya. Ada kepuasan ketika mampu membantu orang yang sebelumnya telah membesarkan dirinya. Ada pula rasa dekat dan kesempatan untuk membalas kebaikan yang selama ini diterima.
Karena itu, kritik terhadap fenomena generasi sandwich tidak seharusnya berubah menjadi kritik terhadap nilai berbakti itu sendiri. Masalahnya bukan pada keinginan seorang anak untuk merawat orang tua, melainkan pada situasi ketika tanggung jawab tersebut hampir sepenuhnya harus ditanggung keluarga karena pilihan dukungan sosial yang tersedia sangat terbatas.
Pengalaman para caregiver menunjukkan bahwa dua hal tersebut dapat terjadi secara bersamaan. Sebuah studi fenomenologi terhadap 10 caregiver menemukan beberapa pengalaman utama dalam merawat lansia, mulai dari alasan merawat karena tanggung jawab keluarga, balas budi, kepuasan, kedekatan, dan rasa kasihan, hingga munculnya beban fisik, psikologis, sosial, dan finansial.
Di sinilah istilah “bakti” menjadi menarik untuk direnungkan. Seseorang dapat merasa tulus merawat orang tua sekaligus merasa lelah secara finansial. Ia dapat merasa bahagia karena bisa membantu keluarga, tetapi pada saat yang sama harus menunda kebutuhan pribadinya. Rasa sayang dan tekanan ekonomi bukan dua pengalaman yang harus saling meniadakan.
Justru karena keduanya bisa hadir bersamaan, persoalan generasi sandwich tidak cukup dijelaskan dengan mengatakan bahwa anak “wajib” merawat orang tua atau bahwa merawat orang tua adalah sebuah “beban”. Realitasnya berada di antara keduanya.
Persoalan yang lebih besar adalah ketika masyarakat menganggap tanggung jawab tersebut sepenuhnya sebagai urusan keluarga. Ketika seorang anak kesulitan memenuhi kebutuhan orang tua, persoalannya kemudian terlihat seperti kegagalan individu atau keluarga, bukan sebagai bagian dari persoalan perlindungan sosial yang lebih luas.
Dengan kata lain, nilai bakti tetap dapat dipertahankan tanpa harus menjadikan keluarga sebagai satu-satunya penyangga risiko hari tua.
Persoalan generasi sandwich tidak berdiri sendiri. Ia juga berkaitan dengan perubahan cara keluarga Indonesia hidup dan berpindah. Ketika keluarga besar dahulu cenderung tinggal berdekatan, urbanisasi dan mobilitas kerja membuat anggota keluarga semakin sering berpindah ke kota lain, bahkan ke luar negeri.
Perubahan ini menciptakan situasi yang cukup paradoks. Secara budaya, tanggung jawab merawat orang tua tetap dipandang sebagai kewajiban keluarga. Namun secara geografis, anggota keluarga tidak selalu lagi berada dalam ruang yang sama. Anak bisa bekerja jauh dari kampung halaman, sementara orang tua tetap tinggal di daerah asal.
Akibatnya, persoalan perawatan lansia tidak hanya menyangkut kemauan anak untuk berbakti. Ada persoalan struktural yang ikut menentukan: jarak, biaya hidup, pekerjaan, akses layanan kesehatan, hingga keberadaan sistem perlindungan sosial yang dapat membantu keluarga.
Urbanisasi membuat hubungan antaranggota keluarga mengalami perubahan. Anak-anak yang memasuki usia produktif cenderung mencari pekerjaan dan kesempatan ekonomi di wilayah yang berbeda dari tempat orang tuanya tinggal.
Dalam kondisi seperti ini, pilihan yang tersedia bagi keluarga tidak selalu sederhana. Anak yang tinggal jauh mungkin tetap mengirim uang setiap bulan, tetapi tidak dapat hadir secara fisik ketika orang tua membutuhkan bantuan. Sebaliknya, anak yang tinggal bersama orang tua dapat memberikan perawatan langsung, tetapi harus menanggung konsekuensi waktu, pekerjaan, dan biaya.
Karena itu, istilah berbakti perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Bentuknya tidak selalu berupa tinggal serumah atau merawat orang tua setiap hari. Dukungan finansial, pengaturan layanan kesehatan, pendampingan jarak jauh, hingga pembagian tanggung jawab dengan saudara juga merupakan bagian dari dinamika keluarga modern.
Persoalannya menjadi lebih rumit ketika kebutuhan lansia tidak sepenuhnya terbaca oleh sistem perlindungan sosial. Perubahan tempat tinggal dan administrasi kependudukan dapat membuat kondisi seseorang tidak selalu tercermin secara akurat dalam data penerima bantuan.
Salah satu persoalan yang pernah disoroti adalah lansia yang masih tercatat dalam Kartu Keluarga anak, meskipun sebenarnya sudah tinggal terpisah. Dalam situasi tertentu, kondisi administratif semacam ini dapat membuat kebutuhan lansia lebih sulit teridentifikasi dalam penyaluran bantuan.
Di sinilah persoalan generasi sandwich memperlihatkan wajah strukturalnya. Keluarga bukan hanya menghadapi pertanyaan tentang apakah anak mau membantu orang tua, tetapi juga apakah sistem di luar keluarga mampu mengenali dan membantu mereka yang membutuhkan.
Indonesia juga sedang bergerak menuju masyarakat yang semakin menua. Ketika jumlah penduduk lansia terus meningkat, kebutuhan terhadap layanan kesehatan, jaminan sosial, perawatan jangka panjang, dan dukungan ekonomi juga ikut bertambah.
Karena itu, persoalan lansia pada akhirnya tidak cukup dipahami sebagai persoalan hubungan anak dan orang tua. Ia merupakan persoalan sosial yang melibatkan keluarga, pasar kerja, layanan publik, dan kebijakan negara secara bersamaan.
Nilai kekeluargaan tetap memiliki tempat penting. Namun semakin besar jumlah lansia, semakin sulit pula mengandalkan keluarga sebagai satu-satunya mekanisme perlindungan. Jika seluruh risiko hari tua terus dikembalikan kepada anak, generasi sandwich berpotensi menjadi siklus yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di titik inilah istilah generasi sandwich menjadi menarik untuk direnungkan. Ketika seorang anak mengeluarkan sebagian besar penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan orang tua, kita cenderung menyebutnya sebagai bentuk bakti. Penilaian itu tidak sepenuhnya keliru. Merawat orang tua memang memiliki nilai moral dan emosional yang kuat dalam masyarakat Indonesia.
Namun, ada pertanyaan lain yang jarang diajukan: mengapa risiko hari tua hampir selalu dibayangkan sebagai tanggung jawab keluarga?
Pertanyaan tersebut bukan berarti ingin menghapus kewajiban anak terhadap orang tua. Justru sebaliknya, pertanyaan ini mencoba membedakan dua hal yang sering tercampur: nilai berbakti kepada orang tua dan tanggung jawab sistem sosial dalam menjamin kehidupan yang layak ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Merawat orang tua tidak selalu dirasakan sebagai beban. Penelitian mengenai pengalaman keluarga dalam merawat lansia menunjukkan adanya berbagai alasan yang membuat seseorang menjalankan peran tersebut, mulai dari rasa tanggung jawab, balas budi, kedekatan emosional, rasa kasihan, hingga kepuasan karena dapat membantu orang tua.
Namun, pengalaman yang sama juga dapat menghadirkan beban fisik, psikologis, sosial, dan finansial. Dengan kata lain, rasa sayang dan rasa lelah tidak selalu saling meniadakan. Seseorang dapat mencintai orang tuanya sekaligus merasa kewalahan dengan tanggung jawab yang harus dipikul.
Di sinilah pembicaraan mengenai generasi sandwich seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah seseorang berbakti atau tidak. Yang lebih penting adalah melihat kondisi yang membuat seseorang harus menanggung beban tersebut dan seberapa besar pilihan yang sebenarnya tersedia baginya.
Nilai filial piety atau bakti kepada orang tua memiliki akar budaya dan keagamaan yang kuat. Nilai tersebut membantu menjaga hubungan antargenerasi dan mendorong keluarga untuk tidak meninggalkan anggota keluarga yang sudah lanjut usia.
Masalahnya muncul ketika nilai moral tersebut secara tidak langsung menjadi pengganti bagi sistem perlindungan sosial yang belum memadai.
Jika masyarakat terus menganggap bahwa anak pasti akan merawat orang tuanya, kebutuhan untuk membangun sistem perlindungan hari tua yang lebih kuat dapat kehilangan urgensinya. Risiko yang seharusnya dapat dibagi melalui mekanisme sosial akhirnya kembali terkonsentrasi pada keluarga.
Dalam situasi seperti itu, seorang anak tidak hanya menjalankan kewajiban moral kepada orang tua. Ia juga secara tidak langsung mengambil alih sebagian risiko yang seharusnya dapat ditanggung bersama melalui sistem jaminan sosial.
Pertanyaan ini membawa kita pada persoalan yang lebih besar. Ketika seorang lansia tidak memiliki tabungan, pensiun, atau perlindungan sosial yang memadai, pilihan yang paling mudah adalah mengandalkan anak.
Akibatnya, risiko ekonomi yang muncul ketika seseorang memasuki usia lanjut berpindah dari individu kepada keluarga. Anak kemudian harus menyesuaikan kebutuhan hidupnya sendiri dengan kebutuhan orang tua. Jika anak tersebut sudah memiliki pasangan dan anak, beban itu kembali bergerak ke generasi berikutnya.
Di sinilah siklus generasi sandwich dapat terbentuk. Bukan karena setiap keluarga gagal merencanakan masa depan, tetapi karena sistem perlindungan terhadap risiko hari tua belum selalu mampu mengambil porsi yang cukup besar dari tanggung jawab tersebut.
Maka, mempertanyakan generasi sandwich bukan berarti mempertanyakan nilai bakti. Yang perlu dipertanyakan adalah anggapan bahwa bakti harus menjadi satu-satunya mekanisme untuk memastikan orang tua dapat bertahan hidup di masa tua.
Generasi sandwich hari ini bukan hanya sedang menanggung dua generasi. Mereka juga sedang menjalani kehidupan yang suatu hari mungkin akan membawa mereka ke posisi yang sama dengan orang tua yang sekarang mereka tanggung.
Jika seorang anak membiayai kebutuhan orang tuanya karena tidak ada perlindungan hari tua yang cukup, lalu kelak ia sendiri bergantung kepada anaknya, maka pola yang sama dapat terus berulang. Tanggung jawab berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa pernah benar-benar mengubah struktur yang membuat ketergantungan itu terjadi.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih dekat dengan kehidupan generasi sekarang. Orang yang hari ini bekerja keras untuk membiayai orang tua belum tentu memiliki kesempatan untuk menyiapkan masa tuanya sendiri secara optimal.
Penghasilan yang seharusnya dapat digunakan untuk tabungan, investasi, pendidikan anak, atau persiapan pensiun sebagian harus dialihkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat ini. Ketika kondisi tersebut berlangsung selama bertahun-tahun, kemampuan generasi sandwich untuk membangun keamanan finansialnya sendiri ikut tertekan.
Jika keadaan itu tidak berubah, mereka berpotensi memasuki usia lanjut dengan persoalan yang sama: tidak memiliki perlindungan yang cukup dan akhirnya kembali bergantung kepada anak.
Fenomena ini menjadi semakin penting ketika melihat temuan Litbang Kompas bahwa generasi sandwich dapat berlangsung hingga empat generasi. Artinya, persoalan tersebut tidak selalu berhenti pada hubungan antara seorang anak dan orang tuanya.
Satu keluarga dapat memiliki anggota yang secara bersamaan menjalankan beberapa peran: sebagai anak yang membantu orang tua, sebagai orang tua yang membiayai anak, sekaligus sebagai individu yang berusaha mempersiapkan masa depannya sendiri.
Jika pola tersebut terus berlangsung, istilah bakti perlahan dapat kehilangan batas antara pilihan moral dan kewajiban ekonomi. Seseorang mungkin tetap ingin membantu orang tuanya, tetapi semakin sedikit ruang yang tersisa untuk mengatakan bahwa dirinya sebenarnya juga membutuhkan perlindungan.
Nilai untuk menghormati dan merawat orang tua tidak harus dianggap sebagai masalah. Justru nilai tersebut merupakan salah satu kekuatan penting dalam kehidupan keluarga Indonesia.
Yang mungkin perlu dipikirkan ulang adalah anggapan bahwa keluarga harus menjadi pihak pertama sekaligus terakhir yang menanggung seluruh risiko hari tua.
Jika keluarga tetap menjadi tempat kasih sayang dan dukungan antargenerasi, sementara negara menyediakan sistem jaminan sosial, layanan kesehatan, dan perlindungan hari tua yang memadai, keduanya tidak harus saling menggantikan.
Dengan begitu, seorang anak dapat merawat orang tuanya karena hubungan dan kasih sayang, bukan semata-mata karena tidak ada pilihan lain.
Generasi sandwich memperlihatkan sebuah kenyataan yang sering dianggap begitu wajar hingga jarang dipertanyakan: ketika orang tua memasuki usia lanjut, anak dianggap sebagai tempat pertama untuk kembali bergantung. Dalam banyak keluarga, hal itu memang lahir dari kasih sayang, rasa tanggung jawab, dan nilai filial piety yang telah diwariskan antargenerasi.
Namun, nilai bakti dan persoalan jaminan sosial sebenarnya berada pada dua ranah yang berbeda. Seorang anak dapat tetap merawat orang tuanya karena cinta dan penghormatan, sementara pada saat yang sama negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa seseorang tidak kehilangan kehidupan yang layak hanya karena memasuki usia lanjut.
Mungkin persoalannya bukan tentang apakah anak harus berbakti atau tidak. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: mengapa bakti harus menjadi satu-satunya jaring pengaman ketika seseorang menua?
Jika perlindungan hari tua semakin kuat, keluarga tidak harus kehilangan perannya. Sebaliknya, hubungan antargenerasi justru dapat menjadi lebih sehat karena bantuan kepada orang tua tidak sepenuhnya lahir dari keterpaksaan ekonomi.
Dan mungkin di situlah kita perlu melihat kembali istilah generasi sandwich. Bukan untuk menyalahkan orang tua, anak, ataupun nilai budaya yang telah lama hidup di masyarakat, melainkan untuk bertanya apakah beban yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang wajar memang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.