Dulu, Menjadi Dewasa Terlihat Sangat Menyenangkan
Waktu masih kecil, aku punya bayangan yang sangat sederhana tentang menjadi orang dewasa.
Enak.
Bisa tidur larut malam tanpa dimarahi.
Bisa makan mi instan dua bungkus kalau mau.
Bisa beli barang pakai uang sendiri.
Bisa pergi ke mana saja tanpa harus izin.
Pokoknya, orang dewasa terlihat seperti manusia yang akhirnya berhasil menaklukkan hidup.
Lalu waktu berjalan.
Kita lulus sekolah, mulai bekerja, menerima gaji pertama, dan perlahan menyadari satu hal.
Ternyata menjadi orang dewasa memang bebas.
Bebas menerima notifikasi tagihan setiap awal bulan.
Bebas melihat saldo rekening yang turun lebih cepat daripada semangat kerja di hari Senin.
Dan tentu saja, bebas menjawab pertanyaan keluarga besar yang entah mengapa selalu sama setiap kali Lebaran.
“Kerjanya gimana?”
“Kapan nikah?”
“Kapan beli rumah?”
Seolah-olah tiga pertanyaan itu adalah paket bundling yang tidak bisa dipisahkan.
Semakin dipikir-pikir, menjadi dewasa di Indonesia sekarang rasanya seperti memainkan permainan yang level kesulitannya diam-diam dinaikkan setiap tahun.
Bukan karena kita malas.
Bukan karena kita tidak mau berusaha.
Tetapi karena garis finisnya seperti terus bergeser menjauh.
Begitu gaji naik sedikit, harga kebutuhan ikut naik.
Ketika mulai punya tabungan, muncul kebutuhan baru.
Saat merasa sudah cukup stabil, tiba-tiba ada biaya yang sebelumnya tidak pernah masuk perhitungan.
Menjadi dewasa ternyata bukan soal berhasil mencapai titik nyaman.
Melainkan terus belajar bernegosiasi dengan kenyataan.
Ada satu momen yang hampir selalu sama setiap bulan.
Gaji masuk.
Beberapa menit kemudian, notifikasi transfer mulai berdatangan.
Bayar kontrakan.
Bayar listrik.
Bayar internet.
Bayar cicilan.
Isi dompet digital.
Belanja kebutuhan dapur.
Entah mengapa, uang terasa seperti tamu yang hanya mampir sebentar sebelum kembali pergi.
Lucunya, media sosial justru sering menampilkan kehidupan yang sangat berbeda.
Ada yang baru membeli mobil.
Ada yang baru liburan ke Jepang.
Ada yang membagikan kunci rumah pertama di usia 25 tahun.
Sementara kita?
Membuka aplikasi mobile banking saja kadang harus menarik napas dulu.
Bukan takut saldonya hilang.
Tetapi takut ternyata memang tidak bertambah.
Tentu saja, media sosial bukan cerminan kehidupan semua orang. Yang sering tampil adalah momen terbaik, bukan tagihan bulanan yang baru saja dibayar. Namun tanpa sadar, perbandingan seperti ini sering membuat banyak orang merasa tertinggal, padahal setiap orang sedang berjuang dengan tantangan yang berbeda.
Pertanyaan ini mungkin pernah muncul di kepala banyak orang.
Apakah hidup memang semakin mahal, atau sebenarnya kita saja yang semakin banyak kebutuhan?
Jawabannya mungkin ada di tengah-tengah.
Seiring bertambahnya usia, kebutuhan memang ikut bertambah. Dulu cukup memikirkan uang jajan. Sekarang harus memikirkan biaya tempat tinggal, transportasi, kesehatan, pendidikan, hingga kebutuhan keluarga.
Di sisi lain, harga berbagai kebutuhan juga terus mengalami perubahan. Inflasi, nilai tukar rupiah, biaya logistik, kondisi ekonomi global, hingga berbagai kebijakan ekonomi dapat memengaruhi harga barang dan jasa yang kita beli setiap hari.
Artinya, rasa bahwa hidup semakin mahal bukan sekadar perasaan. Ada faktor ekonomi yang memang ikut membentuk pengalaman tersebut.
Namun yang menarik, sering kali ada jarak antara angka yang kita dengar dalam pemberitaan dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat.
Kita mendengar ekonomi tumbuh.
Kita membaca investasi meningkat.
Kita melihat berbagai indikator ekonomi bergerak ke arah yang positif.
Semua itu penting.
Namun ketika pulang ke rumah, yang lebih sering menjadi bahan obrolan justru harga beras, biaya sekolah anak, uang kontrakan, atau apakah gaji bulan ini masih cukup sampai tanggal gajian berikutnya.
Dua kenyataan itu tidak harus saling bertentangan.
Ekonomi memang bisa tumbuh. Tetapi pada saat yang sama, sebagian masyarakat juga bisa merasa bahwa beban hidup mereka semakin berat.
Barangkali, di situlah awal dari pertanyaan yang ingin kita renungkan bersama.
Mengapa bekerja keras terasa tidak selalu berbanding lurus dengan rasa tenang dalam menjalani hidup?

Aku sering berpikir, mungkin masalahnya ada di dompetku.
Setiap kali membaca berita ekonomi, suasananya terdengar optimistis.
Pertumbuhan ekonomi positif.
Investasi meningkat.
Konsumsi rumah tangga tumbuh.
Inflasi masih terkendali.
Kalimat-kalimat seperti itu hampir selalu muncul setiap beberapa bulan.
Lalu aku menutup berita itu, membuka aplikasi mobile banking, dan mendadak merasa kami hidup di dua negara yang berbeda.
Tentu saja ini bukan berarti data-data tersebut salah. Angka ekonomi disusun melalui metode yang jelas dan menjadi alat penting untuk melihat kondisi sebuah negara secara umum.
Masalahnya, angka makro tidak selalu mampu menceritakan pengalaman setiap orang.
Pertumbuhan ekonomi bisa saja terjadi.
Namun pertanyaan yang lebih penting adalah, siapa yang benar-benar merasakan pertumbuhan itu?
Kalau sebuah negara tumbuh lima persen, apakah lima persen itu juga ikut masuk ke dompet masyarakat?
Atau hanya berhenti menjadi angka yang terlihat indah di layar presentasi?
Pertanyaan seperti ini mungkin terdengar sinis.
Tetapi menurutku, justru pertanyaan seperti inilah yang seharusnya terus diajukan.

Aku melihat banyak teman sebayaku bekerja jauh lebih keras dibandingkan generasi sebelumnya.
Mereka punya pekerjaan utama.
Malamnya menjadi freelancer.
Akhir pekan mencoba berjualan.
Belajar investasi.
Membuka toko online.
Mencari penghasilan tambahan hampir menjadi kewajiban, bukan lagi pilihan.
Ironisnya, semua itu sering kali bukan dilakukan untuk menjadi kaya.
Melainkan supaya tetap bisa bertahan.
Dulu, kerja keras identik dengan harapan.
Sekarang, kerja keras sering kali identik dengan bertahan agar pengeluaran tidak lebih besar daripada pemasukan.
Harga rumah naik lebih cepat daripada kenaikan gaji.
Biaya pendidikan terus meningkat.
Biaya kesehatan ikut bertambah.
Bahkan secangkir kopi yang dulu dianggap “hadiah kecil untuk diri sendiri” sekarang kadang harus masuk daftar pengeluaran yang dipertimbangkan.
Mungkin terdengar sepele.
Tetapi ketika banyak kebutuhan kecil mulai terasa mahal, lama-kelamaan yang berubah bukan hanya isi dompet.
Yang ikut berubah adalah cara kita menikmati hidup.
Nah, ini bagian yang paling mudah dijadikan bahan perdebatan.
Kalau harga naik, pemerintah disalahkan.
Kalau rupiah melemah, pemerintah disalahkan.
Kalau cabai mahal, kadang pemerintah juga ikut disalahkan.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Perekonomian sebuah negara dipengaruhi banyak hal. Kondisi ekonomi global, konflik geopolitik, harga energi dunia, nilai tukar dolar Amerika Serikat, suku bunga internasional, hingga gangguan rantai pasok dapat ikut memengaruhi harga barang di dalam negeri.
Namun, mengatakan bahwa semuanya dipengaruhi faktor global juga bukan jawaban yang cukup.
Pemerintah tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan fiskal, pengendalian inflasi, perlindungan sosial, penciptaan lapangan kerja, hingga memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hidup dari pidato ekonomi.
Masyarakat hidup dari pendapatan yang mereka bawa pulang setiap bulan.
Kalau pendapatan tidak mampu mengejar kenaikan biaya hidup, maka rasa khawatir akan tetap ada, sebaik apa pun angka ekonomi yang diumumkan.
Aku tidak sedang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi itu tidak penting.
Justru sebaliknya.
Tanpa pertumbuhan ekonomi, kondisi masyarakat bisa menjadi jauh lebih sulit.
Tetapi mungkin sudah saatnya kita bertanya dengan cara yang sedikit berbeda.
Bukan hanya, “Berapa persen ekonomi tumbuh tahun ini?”
Melainkan juga, “Berapa banyak keluarga yang kini hidup sedikit lebih tenang dibandingkan tahun lalu?”
Karena tujuan pembangunan seharusnya bukan hanya menghasilkan grafik yang terus naik.
Tujuan akhirnya adalah menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat yang setiap hari bekerja, membayar pajak, membesarkan anak, dan berharap bahwa kerja keras mereka suatu hari nanti benar-benar terasa hasilnya.
Setelah dipikir-pikir, mungkin yang benar-benar mahal hari ini bukan hanya beras, minyak goreng, atau harga rumah.
Yang jauh lebih mahal adalah rasa tenang.
Kita hidup di zaman ketika bekerja delapan jam sehari sering kali terasa belum cukup. Banyak orang akhirnya mencari pekerjaan sampingan, menjadi freelancer, membuka usaha kecil, menjadi kreator konten, bahkan mengambil pekerjaan di akhir pekan. Bukan karena ingin cepat kaya, tetapi karena ingin memiliki sedikit ruang bernapas dalam kondisi ekonomi yang semakin menantang.
Ironisnya, semakin keras kita bekerja, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk menikmati hasil kerja itu sendiri.
Barangkali inilah paradoks terbesar menjadi orang dewasa.
Kita mengejar kehidupan yang lebih baik, tetapi sering kali lupa menikmati hidup karena terlalu sibuk mengejarnya.
Aku kurang setuju kalau generasi sekarang sering diberi cap malas atau terlalu banyak mengeluh.
Kalau kita melihat kenyataan di sekitar, justru banyak anak muda yang bekerja lebih dari satu pekerjaan.
Pagi menjadi karyawan.
Malam menjadi freelancer.
Akhir pekan mencoba membuka usaha kecil.
Belajar investasi.
Mengikuti pelatihan daring.
Membangun personal branding.
Mencari peluang dari media sosial.
Kalau itu masih disebut malas, mungkin definisi malas memang perlu diperbarui.
Masalahnya bukan pada kemauan bekerja.
Masalahnya adalah semakin banyak orang yang merasa bekerja keras belum tentu membawa mereka lebih dekat kepada kehidupan yang mereka impikan.
Rumah masih terasa jauh.
Dana darurat belum terkumpul.
Biaya pendidikan anak terus naik.
Harga kebutuhan sehari-hari tidak pernah benar-benar diam.
Akhirnya, banyak orang mulai mengubah definisi sukses.
Dulu sukses berarti membeli rumah.
Sekarang, kadang sukses berarti gaji bulan ini cukup sampai akhir bulan tanpa harus menggesek paylater.
Lucu memang.
Tapi juga sedikit menyedihkan.
Dalam setiap pembahasan ekonomi, kritik sering kali dianggap sebagai bentuk pesimisme.
Padahal, kritik justru dibutuhkan agar kebijakan tidak hanya terlihat baik di atas kertas, tetapi juga benar-benar terasa manfaatnya di kehidupan sehari-hari.
Kalau masyarakat mengeluhkan daya beli yang melemah, itu bukan berarti mereka anti terhadap pemerintah.
Kalau masyarakat mempertanyakan harga kebutuhan pokok yang terus naik, itu bukan berarti mereka tidak menghargai kerja keras para pembuat kebijakan.
Justru sebaliknya.
Karena masyarakat berharap setiap kebijakan benar-benar menjawab persoalan yang mereka hadapi setiap hari.
Pemerintah tentu tidak bisa mengendalikan seluruh faktor ekonomi dunia.
Nilai tukar rupiah dipengaruhi kondisi global.
Harga minyak mengikuti pasar internasional.
Konflik geopolitik dapat mengganggu rantai pasok.
Namun pemerintah tetap memiliki ruang untuk memperkuat daya beli masyarakat, menjaga stabilitas harga, memperluas lapangan kerja, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memastikan bahwa hasil pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati secara lebih merata.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak menilai ekonomi dari presentasi resmi.
Masyarakat menilai ekonomi dari isi keranjang belanja mereka.
Dari apakah uang belanja masih cukup.
Dari apakah mereka masih bisa menabung.
Dari apakah mereka masih memiliki harapan bahwa kehidupan anak-anak mereka kelak akan lebih baik.

Aku masih percaya bahwa bekerja keras adalah sesuatu yang layak diperjuangkan.
Aku juga masih percaya Indonesia memiliki peluang besar untuk terus berkembang.
Tetapi pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya dirayakan ketika angka-angkanya naik.
Pertumbuhan juga harus terasa di meja makan.
Di pasar tradisional.
Di warung kecil.
Di rumah-rumah yang setiap malam masih sibuk menghitung pengeluaran bulan depan.
Mungkin menjadi dewasa memang tidak pernah murah.
Tidak di Indonesia.
Tidak juga di banyak negara lain.
Namun yang seharusnya tidak menjadi barang mewah adalah harapan.
Harapan bahwa seseorang yang bekerja dengan jujur, berusaha setiap hari, dan tidak pernah berhenti belajar, suatu saat benar-benar bisa hidup dengan lebih layak.
Karena jika kerja keras saja sudah tidak lagi mampu menghadirkan harapan, mungkin yang perlu kita evaluasi bukan semangat masyarakatnya.
Melainkan apakah sistem yang kita bangun sudah benar-benar memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh.
💬 Kolom BERITANDA.ID
Kolom ini merupakan opini penulis berdasarkan pengamatan terhadap fenomena sosial dan ekonomi yang berkembang di masyarakat. Pendapat yang disampaikan bertujuan mendorong ruang diskusi publik yang sehat serta tidak dimaksudkan sebagai representasi fakta tunggal ataupun sikap resmi terhadap pihak tertentu.