AD PLACEMENT

Mengapa Kita Begitu Takut Tertinggal? Ketika Hidup Berubah Menjadi Perlombaan Tanpa Garis Akhir

AD PLACEMENT

Pernah tidak, sedang membuka media sosial hanya lima menit, tetapi setelah menutupnya justru merasa hidup sendiri kurang baik-baik saja?

Ada teman yang baru membeli rumah.

Ada yang mengunggah foto liburan ke luar negeri.

Ada yang mengumumkan promosi jabatan.

Ada yang baru menikah.

Ada pula yang membagikan kabar tentang bisnisnya yang semakin berkembang.

Semuanya tampak menyenangkan.

Namun entah mengapa, di sela-sela rasa ikut bahagia itu, sering muncul satu pertanyaan kecil yang diam-diam mengganggu pikiran.

“Kalau mereka sudah sejauh itu, aku sekarang ada di mana?”

Pertanyaan itu mungkin hanya lewat beberapa detik.

Tetapi cukup untuk membuat kita mulai membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan perjalanan hidup orang lain.

Padahal, sebelum membuka media sosial, kita merasa hari itu berjalan biasa saja.

Tidak buruk.

Tidak juga luar biasa.

Namun setelah melihat kehidupan orang lain, tiba-tiba muncul perasaan seperti sedang tertinggal dalam sebuah perlombaan yang bahkan kita sendiri tidak pernah mendaftar sebagai pesertanya.

Barangkali, inilah salah satu ironi terbesar di era digital.

Teknologi membuat kita semakin mudah terhubung.

Tetapi pada saat yang sama, teknologi juga membuat kita semakin mudah membandingkan diri.

Siapa yang Membuat Kita Merasa Harus Lebih Cepat?

Kalau dipikir-pikir, hidup memang penuh target.

Lulus sekolah.

Mendapat pekerjaan.

Menikah.

Membeli rumah.

Memiliki kendaraan.

Membangun karier.

Menyiapkan dana pensiun.

Semua itu adalah tujuan yang wajar.

Masalahnya bukan pada tujuan tersebut.

Masalahnya adalah ketika semua tujuan itu mulai memiliki tenggat waktu yang seolah wajib dipenuhi.

Usia 25 harus sudah mapan.

Usia 30 harus punya rumah.

Usia tertentu harus sudah menikah.

Kalau belum?

Seolah-olah kita sedang tertinggal.

Padahal, siapa sebenarnya yang menetapkan aturan itu?

Tidak ada undang-undang yang mengharuskan seseorang membeli rumah sebelum usia 30 tahun.

Tidak ada kalender kehidupan yang mewajibkan semua orang berhasil pada umur yang sama.

Namun tekanan itu terasa nyata karena terus kita lihat, kita dengar, bahkan tanpa sadar kita ulangi kepada orang lain.

Media sosial memperkuat perasaan tersebut.

Algoritma lebih senang menampilkan pencapaian daripada perjuangan.

Yang muncul di beranda adalah foto wisuda.

Bukan malam-malam ketika seseorang hampir menyerah menyelesaikan skripsinya.

Yang kita lihat adalah foto rumah baru.

Bukan bertahun-tahun menabung, menahan keinginan, dan menghitung cicilan sebelum kunci rumah itu akhirnya diterima.

Kita melihat hasil akhirnya.

Jarang sekali melihat proses panjang di belakangnya.

Akibatnya, kita mulai membandingkan proses hidup kita dengan hasil hidup orang lain.

Dan itu adalah perbandingan yang hampir tidak pernah adil.

Infografis tentang FOMO yang menjelaskan penyebab, dampak, dan cara menghadapinya di era media sosial.

Bukan Soal Siapa yang Paling Cepat

Mungkin persoalannya bukan karena kita kurang bersyukur.

Bukan juga karena kita terlalu mudah iri.

Bisa jadi, kita hanya hidup di zaman yang membuat keberhasilan orang lain terlihat setiap saat.

Dulu, kita hanya mengetahui kabar teman ketika bertemu di sekolah atau saat acara keluarga.

Sekarang, dalam satu jam saja kita bisa melihat puluhan pencapaian dari orang yang bahkan sudah bertahun-tahun tidak pernah kita temui.

Tidak heran jika tanpa sadar, hidup perlahan berubah menjadi papan skor yang terus bergerak.

Semakin sering kita melihat angka milik orang lain, semakin lupa kita menghitung langkah yang sudah berhasil kita tempuh sendiri.

Lalu kita mulai bertanya.

Apakah benar kita sedang tertinggal?

Atau sebenarnya kita hanya terlalu sering melihat perlombaan yang bukan milik kita?

Pertanyaan itulah yang akan kita coba lihat dari sudut pandang yang lebih luas. Sebab, bisa jadi rasa takut tertinggal bukan lahir begitu saja, melainkan dibentuk oleh budaya, teknologi, dan cara kita memaknai kesuksesan di era modern.

Budaya Membandingkan Diri yang Semakin Normal

Coba ingat-ingat lagi.

Sejak kapan kita mulai mengukur keberhasilan hidup menggunakan pencapaian orang lain?

Mungkin jawabannya tidak pernah benar-benar jelas.

Namun satu hal yang pasti, media sosial telah mengubah cara kita memandang kesuksesan.

Dulu, keberhasilan adalah sesuatu yang kita dengar sesekali.

Sekarang, keberhasilan muncul setiap kali layar ponsel dibuka.

Ada yang baru membeli mobil.

Ada yang diterima bekerja di perusahaan impian.

Ada yang baru membuka usaha.

Ada yang baru membeli rumah.

Ada yang mengunggah foto liburan.

Semuanya terlihat berjalan begitu cepat.

Padahal yang kita lihat hanyalah potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang.

Kita jarang melihat kegagalan yang mereka alami.

Jarang melihat utang yang sedang mereka cicil.

Jarang melihat rasa lelah yang mereka sembunyikan.

Yang muncul di layar hanyalah hasil akhirnya.

Ironisnya, kita justru membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan momen terbaik orang lain.

Kalau dipikir-pikir, itu seperti membandingkan latihan kita setiap hari dengan cuplikan gol terbaik seorang pemain sepak bola.

Tentu saja hasilnya tidak akan pernah terasa seimbang.

Algoritma Tidak Peduli Perasaan Kita

Ada satu “tokoh” yang sering luput dari pembahasan setiap kali kita berbicara tentang rasa takut tertinggal.

Namanya algoritma.

Algoritma media sosial tidak dirancang untuk membuat kita tenang.

Ia dirancang agar kita terus menonton.

Terus menggulir layar.

Terus berinteraksi.

Semakin lama kita bertahan, semakin menguntungkan platform tersebut.

Karena itu, konten yang paling sering muncul biasanya adalah konten yang mampu memancing emosi.

Bisa berupa rasa kagum.

Rasa iri.

Rasa penasaran.

Atau bahkan rasa takut tertinggal.

Tanpa sadar, kita terus disuguhi standar hidup yang tampak sempurna.

Rumah yang besar.

Mobil baru.

Bisnis yang berkembang.

Liburan yang terlihat menyenangkan.

Karier yang selalu naik.

Lama-kelamaan, semua itu terlihat seperti sesuatu yang normal.

Padahal kenyataannya, kehidupan sebagian besar orang tidak selalu seperti itu.

Sayangnya, algoritma tidak pernah menampilkan kalimat seperti:

“Hari ini dia juga sedang bingung membayar cicilan.”

Atau…

“Foto ini diambil setelah bertahun-tahun bekerja keras.”

Yang terlihat hanyalah hasil akhirnya.

Dan hasil akhir selalu tampak lebih indah daripada proses panjang yang melahirkannya.

Infografis yang menjelaskan cara kerja algoritma media sosial dan pengaruhnya terhadap rasa takut tertinggal serta kebiasaan membandingkan diri.

Ketika Kesuksesan Berubah Menjadi Standar Sosial

Masalahnya tidak berhenti di media sosial.

Pelan-pelan, standar itu ikut terbawa ke kehidupan nyata.

Pertanyaan sederhana seperti, “Kerja di mana sekarang?” atau “Kapan menikah?” sebenarnya terdengar biasa.

Namun bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan itu bisa menjadi pengingat bahwa mereka merasa belum mencapai sesuatu yang dianggap “normal”.

Kita hidup di masyarakat yang sering kali tanpa sadar memiliki garis waktu tentang kehidupan.

Lulus di usia tertentu.

Bekerja di usia tertentu.

Menikah di usia tertentu.

Punya rumah di usia tertentu.

Seolah-olah semua orang harus mengikuti urutan yang sama.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Setiap orang lahir dengan kondisi yang berbeda.

Ada yang memulai hidup dengan banyak privilese.

Ada yang harus bekerja sambil kuliah.

Ada yang menjadi tulang punggung keluarga sejak usia muda.

Ada pula yang harus memulai semuanya dari nol.

Kalau garis start saja berbeda, mengapa kita memaksa semua orang mencapai garis finis di waktu yang sama?

Barangkali, di sinilah kita perlu mengubah cara pandang.

Kesuksesan bukanlah perlombaan yang dimenangkan oleh mereka yang paling cepat.

Kesuksesan adalah perjalanan yang bentuknya bisa berbeda bagi setiap orang.

Dan mungkin, yang paling berbahaya bukan ketika kita benar-benar tertinggal.

Melainkan ketika kita terus merasa tertinggal, hanya karena terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain.

Mungkin Kita Tidak Sedang Tertinggal

Setelah semua pembahasan ini, mungkin ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri.

Apakah kita benar-benar sedang tertinggal?

Atau sebenarnya kita hanya terlalu sering melihat kehidupan orang lain?

Barangkali, rasa takut tertinggal bukan muncul karena hidup kita buruk.

Rasa itu muncul karena setiap hari kita melihat potongan kehidupan terbaik orang lain, lalu tanpa sadar menjadikannya sebagai standar untuk menilai hidup sendiri.

Kita lupa bahwa setiap orang memulai perjalanan dari titik yang berbeda.

Ada yang lahir di keluarga berkecukupan.

Ada yang sejak kecil sudah harus membantu orang tua mencari nafkah.

Ada yang memiliki akses pendidikan yang baik.

Ada yang harus bekerja lebih dulu sebelum bisa melanjutkan kuliah.

Kalau garis start saja berbeda, mengapa kita memaksa semua orang mencapai garis finis di waktu yang sama?

Sayangnya, dunia modern sering kali tidak memberi ruang untuk pertanyaan seperti itu.

Yang lebih sering kita dengar justru kalimat-kalimat motivasi yang terdengar indah, tetapi kadang terlalu menyederhanakan kenyataan.

“Kalau dia bisa, kamu juga pasti bisa.”

“Semua orang punya waktu yang sama, yaitu 24 jam.”

“Kesuksesan hanya soal kerja keras.”

Sekilas tidak ada yang salah.

Namun kehidupan nyata jauh lebih rumit daripada kutipan motivasi di media sosial.

Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama.

Tidak semua orang memiliki jaringan yang sama.

Tidak semua orang memiliki kondisi ekonomi yang sama.

Dan tentu saja, tidak semua orang menghadapi tantangan hidup yang sama.

Mengakui kenyataan itu bukan berarti menyerah.

Justru dari sanalah empati seharusnya tumbuh.

Berhenti Mengukur Hidup dengan Penggaris Milik Orang Lain

Mungkin salah satu hal tersulit di era digital bukanlah mengejar kesuksesan.

Melainkan tetap merasa cukup ketika setiap hari kita disuguhi pencapaian orang lain.

Padahal, hidup bukan papan peringkat.

Tidak ada medali untuk siapa yang paling cepat menikah.

Tidak ada trofi bagi siapa yang paling muda membeli rumah.

Tidak ada sertifikat yang menyatakan seseorang gagal hanya karena jalannya lebih lambat.

Yang ada hanyalah kehidupan yang terus berjalan dengan ritme masing-masing.

Ironisnya, kita sering lebih hafal pencapaian orang lain daripada kemajuan diri sendiri.

Kita lupa bahwa setahun yang lalu mungkin kita masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Dua tahun yang lalu mungkin kita masih bingung harus memulai dari mana.

Hari ini, mungkin kita memang belum berada di tempat yang diimpikan.

Tetapi bukankah kita sudah berjalan lebih jauh daripada kemarin?

Kadang, kemajuan tidak selalu berbentuk rumah baru atau jabatan yang lebih tinggi.

Kadang, kemajuan adalah berhasil melewati masa-masa sulit tanpa menyerah.

Berhasil bangkit setelah kehilangan pekerjaan.

Berhasil membantu keluarga.

Berhasil menjaga kesehatan mental di tengah tekanan yang tidak sedikit.

Bukankah itu juga layak disebut sebagai pencapaian?

Penutup: Tidak Semua Perjalanan Harus Cepat

Kita hidup di zaman yang begitu sibuk mengajarkan cara menjadi lebih cepat.

Lebih cepat sukses.

Lebih cepat kaya.

Lebih cepat terkenal.

Lebih cepat memiliki segalanya.

Namun mungkin, kita justru lupa belajar satu hal yang tidak kalah penting.

Bagaimana menikmati perjalanan.

Karena pada akhirnya, hidup bukan sekadar soal siapa yang lebih dulu sampai.

Hidup adalah tentang apakah kita masih memiliki waktu untuk menikmati setiap langkah menuju ke sana.

Bisa jadi, kita tidak benar-benar tertinggal.

Kita hanya terlalu lama berdiri di pinggir jalan, sibuk menghitung kecepatan orang lain, sampai lupa bahwa kendaraan kita sendiri sebenarnya masih terus melaju.

Dan mungkin, itulah perspektif yang paling layak kita simpan.

Bukan semua orang harus berlari lebih cepat.

Melainkan semua orang berhak menjalani hidup dengan ritme yang paling sesuai bagi dirinya.

Ilustrasi seseorang berjalan menuju matahari terbit di jalan yang panjang sebagai simbol perjalanan hidup yang memiliki ritme berbeda bagi setiap orang.


💬 Perspektif BERITANDA.ID

Tulisan ini merupakan perspektif redaksi terhadap fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. Tujuannya bukan untuk memberikan kebenaran tunggal, melainkan membuka ruang refleksi, diskusi, dan cara pandang yang lebih luas terhadap isu-isu yang kita hadapi bersama.

AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ketika AI Jadi Teman Curhat — Kehangatan yang Terasa Nyata, Tapi Ke Mana Perginya?

Ketika AI Jadi Teman Curhat — Kehangatan yang Terasa Nyata, Tapi Ke Mana Perginya?

Masyarakat Terlalu Cepat Menghakimi, Internet Terlalu Cepat Mengadili

Masyarakat Terlalu Cepat Menghakimi, Internet Terlalu Cepat Mengadili

Panik Karena Rumor: Ketika Hoaks Lebih Cepat Dipercaya daripada Fakta

Panik Karena Rumor: Ketika Hoaks Lebih Cepat Dipercaya daripada Fakta

Kita Kehilangan Kebosanan, dan Mungkin Itu Masalah

Kita Kehilangan Kebosanan, dan Mungkin Itu Masalah

Ketika Semua Orang Pakai AI, Tapi Sedikit yang Berpikir Kritis

Ketika Semua Orang Pakai AI, Tapi Sedikit yang Berpikir Kritis

Mahalnya Menjadi Dewasa di Indonesia: Ketika Bekerja Keras Tak Selalu Cukup

Mahalnya Menjadi Dewasa di Indonesia: Ketika Bekerja Keras Tak Selalu Cukup

AD PLACEMENT