Minat Baca Indonesia dan Fenomena BookTok

Membaca di tengah perubahan budaya digital dan munculnya tren BookTok.
AD PLACEMENT

Selama bertahun-tahun, kita terbiasa mendengar bahwa orang Indonesia malas membaca. Angka 0,001 persen bahkan pernah begitu sering dikutip hingga seolah-olah menjadi ukuran tetap tentang wajah literasi Indonesia. Padahal, angka tersebut berasal dari data lama dan tidak semestinya digunakan untuk menggambarkan kondisi membaca masyarakat Indonesia hari ini.

Lalu datang BookTok. Di TikTok, buku kembali menjadi sesuatu yang ramai dibicarakan. Orang merekomendasikan novel, memperlihatkan rak buku, membagikan ulasan, hingga membuat membaca terlihat sebagai bagian dari gaya hidup. Narasinya pun seperti berbalik: mungkin generasi muda tidak benar-benar malas membaca. Mungkin mereka hanya membaca dengan cara yang berbeda.

Kedua cerita tersebut terdengar masuk akal. Masalahnya, keduanya mungkin sama-sama terlalu sederhana.

Sebab ketika kita mengatakan “minat baca meningkat” karena sebuah buku menjadi viral di TikTok, sebenarnya apa yang sedang kita ukur? Apakah semakin banyak orang membaca buku sampai selesai? Atau semakin banyak orang mengonsumsi konten tentang buku—ulasan singkat, rekomendasi, kutipan, estetika rak, dan video yang membuat sebuah buku terlihat menarik?

Pertanyaan ini bukan untuk meremehkan BookTok atau menghidupkan kembali anggapan bahwa generasi muda malas membaca. Justru sebaliknya. Jika cara orang menemukan, membicarakan, dan mengonsumsi buku memang sedang berubah, mungkin kita perlu berhenti sejenak untuk melihat perubahan itu dengan lebih jujur.

Barangkali persoalan literasi hari ini bukan sekadar tentang berapa banyak orang yang membaca, melainkan tentang apa yang kita maksud dengan membaca ketika buku telah menjadi bagian dari budaya algoritma dan media sosial.

Lalu Datang BookTok dan Narasinya Berbalik

Di tengah narasi lama tentang rendahnya minat baca, media sosial justru menghadirkan pemandangan yang berbeda. Buku tidak lagi hanya ditemukan di perpustakaan, toko buku, atau percakapan antarpembaca. Di TikTok, sebuah novel dapat muncul melalui video berdurasi singkat, ulasan pengguna, rekomendasi sesama pembaca, atau sekadar tampilan rak buku yang menarik perhatian.

Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai BookTok, komunitas dan ekosistem konten tentang buku di TikTok. Di Indonesia, popularitasnya berkembang seiring meningkatnya penggunaan TikTok sebagai tempat mencari rekomendasi dan berbagi pengalaman membaca.

Sejumlah data memang memberikan gambaran yang berbeda dari stereotip tentang generasi muda yang tidak suka membaca. Survei Snapcart yang diberitakan GoodStats pada 2024, misalnya, menemukan bahwa 88 persen dari 591 responden anak muda yang disurvei mengaku menyukai aktivitas membaca, baik secara daring maupun luring. Data tersebut tentu tidak dapat dianggap sebagai gambaran seluruh anak muda Indonesia, tetapi setidaknya menunjukkan bahwa hubungan generasi muda dengan aktivitas membaca tidak sesederhana label “malas membaca”.

Pengaruh BookTok juga tidak berhenti di layar. Survei yang dikutip dalam pemberitaan mengenai tren BookTok menunjukkan adanya responden yang kemudian mengunjungi toko buku fisik setelah menemukan buku melalui konten di TikTok. Ini menarik karena memperlihatkan bahwa konsumsi konten digital tidak selalu menggantikan pengalaman membaca atau membeli buku secara langsung. Dalam kondisi tertentu, justru konten digital dapat menjadi pintu masuk menuju buku fisik.

Di luar transaksi, muncul pula berbagai komunitas yang membawa kembali aktivitas membaca ke ruang bersama. Kegiatan seperti silent reading dan komunitas baca menunjukkan bahwa media sosial dapat berfungsi sebagai titik temu untuk membangun kebiasaan membaca di dunia nyata.

Maka, terlalu mudah jika kita menyimpulkan bahwa teknologi hanya membuat orang semakin jauh dari buku. Ada situasi ketika platform digital justru membantu seseorang menemukan buku yang sebelumnya tidak pernah ia kenal, menemukan pembaca lain dengan minat serupa, atau mendapatkan dorongan untuk mulai membaca.

Tetapi di sinilah kita perlu berhenti sebentar.

Sebab keberhasilan BookTok dalam membuat buku menjadi konten yang menarik belum otomatis menjawab pertanyaan tentang keberhasilan membaca itu sendiri. Seseorang bisa mengetahui sebuah buku karena melihat puluhan video tentangnya, mengenali sampulnya, membaca berbagai kutipan, bahkan mengetahui alasan orang lain menyukainya—tanpa pernah menyelesaikan bukunya.

Sebaliknya, seseorang mungkin menemukan sebuah buku melalui video berdurasi kurang dari satu menit, lalu benar-benar membacanya sampai selesai. Dalam kasus seperti ini, konten singkat justru menjadi pintu menuju pengalaman membaca yang lebih panjang.

Artinya, hubungan antara BookTok dan membaca tidak sesederhana hubungan sebab-akibat. BookTok dapat menjadi pintu masuk, ruang komunitas, tempat berbagi pengalaman, sekaligus ruang konsumsi konten tentang buku. Apa yang terjadi setelah seseorang menemukan buku tersebut sangat bergantung pada perilaku pembacanya.

Karena itu, euforia terhadap BookTok seharusnya tidak buru-buru digunakan untuk membuktikan bahwa persoalan minat baca Indonesia telah selesai. Namun, kita juga tidak memiliki alasan untuk menganggap fenomena tersebut tidak berarti.

Mungkin yang lebih menarik justru pertanyaan berikutnya: ketika buku semakin sering kita temui melalui video, rekomendasi, algoritma, dan estetika media sosial, apakah yang sebenarnya sedang tumbuh—kebiasaan membaca buku atau budaya mengonsumsi konten tentang buku?

Ketika “Membaca” Berubah Menjadi Konten

Di titik ini, persoalannya bukan lagi apakah BookTok membuat orang tertarik pada buku. Banyak tanda menunjukkan bahwa platform digital memang dapat membantu buku ditemukan oleh pembaca baru. Pertanyaan yang lebih sulit justru muncul setelahnya: apakah ketertarikan terhadap buku selalu berarti peningkatan aktivitas membaca?

Di media sosial, sebuah buku tidak hadir hanya sebagai teks yang harus dibaca. Ia hadir sebagai sampul yang menarik, kutipan yang menyentuh, rekomendasi singkat, video reaksi, rak buku yang tertata, atau cerita tentang pengalaman seseorang setelah membaca. Buku menjadi bagian dari sebuah ekosistem konten.

Perubahan ini penting karena aktivitas membaca memiliki karakter yang berbeda dengan aktivitas menonton konten tentang membaca. Membaca buku membutuhkan waktu, perhatian, dan kesediaan untuk bertahan dalam satu alur yang relatif panjang. Sementara itu, video pendek dapat memberikan kesan tentang sebuah buku hanya dalam hitungan detik.

Seseorang dapat mengetahui premis sebuah novel, melihat reaksi pembaca lain, mengetahui bagian yang dianggap paling menyentuh, bahkan mendapatkan rekomendasi apakah buku tersebut layak dibeli tanpa pernah membuka halaman pertamanya.

Bukan berarti aktivitas tersebut tidak memiliki nilai. Justru konten semacam itu dapat menjadi pintu masuk yang membuat seseorang akhirnya membeli atau membaca buku. Namun, kita perlu berhati-hati ketika mengubah meningkatnya engagement terhadap konten buku menjadi bukti bahwa kegiatan membaca secara mendalam juga meningkat dalam proporsi yang sama.

Di sinilah perbedaan antara membaca buku dan mengonsumsi konten tentang buku menjadi penting.

Media sosial pada dasarnya bekerja dengan logika perhatian. Konten yang mampu menarik perhatian dalam waktu singkat memiliki peluang lebih besar untuk terus dikonsumsi dan dibagikan. Buku kemudian perlu diterjemahkan ke dalam format yang sesuai dengan logika tersebut: potongan cerita, kutipan, ekspresi pembaca, daftar rekomendasi, atau visual yang mudah dikenali.

Perubahan cara kita menemukan informasi seperti ini bukan hanya terjadi pada buku. BERITANDA.ID sebelumnya membahas fenomena TikTokification, yaitu perubahan pola konsumsi konten ketika algoritma dan video pendek semakin menentukan apa yang muncul di hadapan pengguna.

Dalam konteks buku, perubahan tersebut menghasilkan situasi yang menarik. Sebuah buku yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk dibaca dapat diperkenalkan kepada seseorang melalui video kurang dari satu menit. Pengalaman membaca yang panjang memiliki pintu masuk yang semakin pendek.

Masalahnya bukan pada panjang video tersebut. Masalahnya adalah apakah pintu masuk itu benar-benar membawa seseorang menuju pengalaman membaca, atau justru membuat pengalaman tentang buku terasa sudah cukup tanpa perlu membaca bukunya.

Misalnya, seseorang melihat sebuah video yang mengatakan bahwa sebuah novel memiliki akhir yang sangat mengejutkan. Ia kemudian membaca puluhan komentar, melihat berbagai reaksi pembaca, menyimpan video rekomendasi, dan mengikuti konten lain tentang novel tersebut. Secara digital, ia telah melakukan banyak aktivitas yang berhubungan dengan buku.

Tetapi aktivitas itu tetap berbeda dari duduk dan membaca novel tersebut.

Perbedaan ini menjadi semakin penting ketika kita berbicara tentang deep reading atau membaca secara mendalam. Membaca secara mendalam bukan sekadar mengenali kata dan memahami informasi, tetapi memberikan perhatian yang cukup untuk mengikuti argumen, memahami konteks, menghubungkan gagasan, serta membangun pemaknaan sendiri.

Karena itu, mungkin kita tidak sedang menyaksikan pilihan antara generasi yang “malas membaca” dan generasi yang “gemar membaca”. Bisa jadi kita sedang melihat perubahan yang lebih kompleks: cara manusia berhubungan dengan buku sedang bergeser dari aktivitas membaca menjadi pengalaman yang juga dibentuk oleh budaya konten.

Dan jika demikian, pertanyaan tentang literasi seharusnya tidak berhenti pada berapa banyak buku yang dibeli, berapa banyak video tentang buku yang ditonton, atau berapa banyak orang yang mengaku menyukai membaca.

Kita juga perlu bertanya: berapa banyak ruang yang masih kita berikan untuk membaca sesuatu secara utuh, perlahan, dan tanpa harus segera mengubahnya menjadi konten?

Membaca Juga Bisa Menjadi Identitas

Ketika buku hadir di media sosial, membaca tidak lagi selalu menjadi aktivitas yang dilakukan secara diam-diam. Kita dapat memperlihatkan buku yang sedang dibaca, membagikan kutipan yang disukai, mengunggah tumpukan to be read, atau menceritakan bagaimana sebuah cerita mengubah cara kita melihat sesuatu.

Dalam situasi seperti ini, membaca dapat menjadi bagian dari cara seseorang memperkenalkan dirinya kepada orang lain. Buku yang dipilih, genre yang disukai, bahkan cara seseorang membicarakan buku dapat menjadi tanda tentang siapa dirinya dan komunitas seperti apa yang ingin ia ikuti.

BookTok memperkuat kemungkinan tersebut. Seseorang tidak hanya menemukan buku, tetapi juga menemukan komunitas pembaca yang memiliki selera serupa. Aktivitas membaca kemudian memiliki dimensi sosial: ada percakapan, rekomendasi, tren, tantangan membaca, hingga identitas sebagai bagian dari komunitas tertentu.

Fenomena ini tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang palsu. Menjadikan membaca sebagai bagian dari identitas tidak otomatis berarti seseorang hanya berpura-pura membaca. Identitas sosial memang sering terbentuk melalui aktivitas yang kita lakukan dan cara kita memperlihatkannya kepada orang lain.

Namun, media sosial membuat batas antara melakukan sesuatu dan memperlihatkan bahwa kita melakukan sesuatu menjadi semakin tipis.

Seseorang dapat benar-benar menikmati membaca, tetapi pada saat yang sama juga menikmati bagaimana aktivitas tersebut terlihat di media sosial. Rak buku yang rapi, sampul yang menarik, catatan kecil di halaman, atau foto buku di sebuah kedai kopi dapat menjadi bagian dari pengalaman membaca yang ingin dibagikan.

Di sinilah gagasan tentang performative reading menjadi menarik untuk direnungkan. Istilah tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan situasi ketika aktivitas membaca tidak hanya dijalankan untuk diri sendiri, tetapi juga memiliki dimensi performatif—ditampilkan, dikomunikasikan, dan menjadi bagian dari identitas sosial.

Tetapi kita perlu berhati-hati agar tidak menjadikan konsep tersebut sebagai tuduhan. Membagikan buku di media sosial tidak membuktikan bahwa seseorang membaca hanya demi terlihat pintar. Begitu pula seseorang yang tidak pernah mengunggah buku belum tentu membaca lebih mendalam.

Persoalannya justru terletak pada perubahan konteks. Dahulu, pengalaman membaca dapat berlangsung sepenuhnya sebagai hubungan pribadi antara pembaca dan buku. Kini, pengalaman tersebut dapat berlangsung sekaligus sebagai interaksi sosial yang terlihat oleh orang lain.

Hal ini membuat definisi “pembaca” menjadi lebih luas sekaligus lebih rumit. Apakah seseorang disebut pembaca karena ia menyelesaikan banyak buku? Karena ia rutin membeli buku? Karena ia aktif berdiskusi tentang buku? Atau karena buku telah menjadi bagian dari cara ia memahami dan menampilkan dirinya?

Tidak semua pertanyaan itu harus memiliki jawaban yang sama.

Yang perlu kita sadari adalah bahwa membaca bukan hanya aktivitas kognitif, tetapi juga dapat menjadi praktik sosial. Orang membaca untuk mengetahui sesuatu, menikmati cerita, mencari jawaban, membangun identitas, menemukan komunitas, atau sekadar memiliki ruang untuk dirinya sendiri.

Karena itu, ketika BookTok membuat membaca terlihat lebih populer, kita tidak perlu buru-buru mencurigainya sebagai sekadar pencitraan. Tetapi kita juga tidak perlu langsung menganggap popularitas konten buku sebagai bukti bahwa kedalaman membaca ikut meningkat.

Mungkin keduanya dapat terjadi secara bersamaan. Seseorang dapat benar-benar membaca sebuah buku sampai selesai sekaligus menjadikannya bagian dari identitas digitalnya. Dan justru di antara dua aktivitas itulah pertanyaan tentang literasi menjadi semakin menarik: ketika membaca semakin terlihat, apakah yang bertambah hanya jumlah pembaca, atau juga cara kita memahami diri sebagai pembaca?

Mungkin Masalahnya Bukan Minat

Jika membaca memang sedang berubah menjadi pengalaman yang lebih sosial dan digital, ada satu pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apakah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk membaca?

Pertanyaan ini sering tenggelam ketika pembicaraan tentang literasi terlalu cepat diarahkan kepada minat individu. Ketika seseorang jarang membaca, kita cenderung bertanya mengapa ia malas membuka buku. Lebih jarang kita bertanya tentang harga buku, ketersediaan perpustakaan, distribusi toko buku, akses terhadap bacaan berkualitas, atau kondisi lingkungan yang memungkinkan seseorang memiliki waktu untuk membaca.

Padahal, ketertarikan terhadap buku tidak selalu cukup untuk menghasilkan kebiasaan membaca. Seseorang bisa saja ingin membaca sebuah buku, tetapi harus mempertimbangkan harganya. Ia mungkin menemukan rekomendasi buku melalui BookTok, tetapi tidak memiliki toko buku di dekat tempat tinggalnya. Perpustakaan mungkin tersedia, tetapi koleksinya belum tentu sesuai dengan kebutuhannya.

Dalam sejumlah pemberitaan yang membahas ekosistem literasi Indonesia, harga buku juga disebut sebagai salah satu hambatan. Data yang dikutip dari Asosiasi Penerbit Indonesia bahkan menyebut sekitar 60 persen masyarakat menganggap harga buku yang tinggi sebagai salah satu penghalang untuk membeli dan membaca buku.

Angka tersebut tetap perlu ditempatkan dalam konteks sumber dan metodologinya. Ia tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh persoalan literasi Indonesia. Namun, data semacam ini membantu mengingatkan bahwa perilaku membaca tidak berdiri di ruang kosong.

Ada kondisi sosial dan material yang ikut menentukan apakah seseorang dapat mempertahankan kebiasaan membaca.

Karena itu, membandingkan masyarakat yang memiliki akses mudah terhadap toko buku, perpustakaan, internet, dan daya beli dengan mereka yang tidak memiliki kondisi serupa hanya berdasarkan “minat membaca” dapat menghasilkan kesimpulan yang tidak adil.

Di sinilah narasi tentang rendahnya minat baca perlu dibaca kembali. Selama bertahun-tahun, angka 0,001 persen sering digunakan untuk menggambarkan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Padahal, angka tersebut berasal dari data lama yang telah berulang kali dipersoalkan relevansinya. Mantan Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando juga pernah menegaskan bahwa angka tersebut bukan data terkini yang dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi literasi Indonesia saat ini.

Menariknya, angka lama tersebut tetap bertahan dalam percakapan publik bahkan setelah konteksnya berubah. Ini menunjukkan bahwa sebuah statistik tidak selalu hidup karena kekuatan datanya. Kadang-kadang, ia bertahan karena narasi yang dibawanya terasa cocok dengan keyakinan yang sudah lebih dahulu kita miliki.

Kita ingin percaya bahwa masyarakat Indonesia malas membaca, lalu sebuah angka lama hadir sebagai pembenaran. Sebaliknya, ketika BookTok menjadi populer, kita juga mudah menemukan angka baru yang tampak membuktikan bahwa generasi muda sebenarnya sudah gemar membaca.

Kedua kecenderungan tersebut memiliki persoalan yang sama: kita terlalu mudah menggunakan satu angka untuk menceritakan fenomena sosial yang jauh lebih kompleks.

Padahal, membaca tidak hanya berkaitan dengan kemauan. Ia juga berkaitan dengan kesempatan.

Kesempatan untuk menemukan buku. Kesempatan untuk membelinya. Kesempatan untuk meminjamnya. Kesempatan untuk memiliki waktu yang cukup. Dan, yang tidak kalah penting, kesempatan untuk membaca tanpa terus-menerus ditarik kembali oleh arus informasi lain.

Maka, mungkin pertanyaan yang lebih produktif bukan lagi “Mengapa orang Indonesia malas membaca?”, melainkan “Ekosistem seperti apa yang membuat seseorang bisa menjadi pembaca?”

Pertanyaan kedua tidak memberikan jawaban yang sesederhana menyalahkan individu. Tetapi justru karena itulah ia lebih dekat dengan kenyataan sosial yang sedang kita hadapi.

BookTok Tidak Harus Disalahkan atau Dipuja

Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu memilih antara dua posisi yang sama-sama nyaman: menganggap BookTok sebagai penyelamat literasi atau menyalahkannya karena membuat membaca menjadi sekadar tontonan.

BookTok adalah bagian dari perubahan cara buku beredar di masyarakat. Ia membuat buku lebih mudah ditemukan, menciptakan percakapan di antara pembaca, dan memungkinkan seseorang menemukan bacaan melalui rekomendasi yang sebelumnya tidak akan ia temui. Dalam konteks tertentu, semua itu dapat menjadi pintu masuk menuju aktivitas membaca.

Tetapi pintu masuk tetaplah pintu masuk. Ia bukan keseluruhan perjalanan.

Sebuah video rekomendasi buku tidak dapat dengan sendirinya memberi tahu apakah seseorang akan membaca buku tersebut sampai selesai. Begitu pula banyaknya konten tentang buku tidak otomatis menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbiasa membaca secara mendalam.

Namun, hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Kita tidak dapat menyimpulkan bahwa membaca telah kehilangan maknanya hanya karena buku kini dipromosikan melalui video pendek, estetika visual, atau tren media sosial.

Barangkali yang sedang terjadi bukanlah hilangnya budaya membaca, melainkan perubahan bentuk hubungan kita dengan buku.

Dahulu, seseorang mungkin menemukan buku melalui rekomendasi teman, sampul di toko buku, katalog perpustakaan, atau daftar bacaan sekolah. Kini, buku dapat ditemukan ketika seseorang sedang menggulir TikTok. Setelah itu, ia dapat membaca ulasan, mengikuti komunitas pembaca, membeli bukunya secara daring, lalu membagikan pengalamannya kepada orang lain.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman membaca kini berada di antara berbagai bentuk aktivitas digital dan sosial.

Karena itu, mungkin kita perlu memperluas cara melihat literasi. Bukan hanya dengan bertanya berapa banyak buku yang dibaca, tetapi juga bagaimana seseorang menemukan informasi, memilih bacaan, memahami isinya, mendiskusikannya, dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Perluasan perspektif ini bukan berarti menghapus perbedaan antara membaca secara mendalam dan sekadar mengonsumsi konten tentang buku. Keduanya tetap merupakan aktivitas yang berbeda. Justru dengan membedakannya, kita dapat memahami fenomena BookTok tanpa terjebak pada euforia maupun kecemasan yang berlebihan.

Mungkin seorang pembaca hari ini memang tidak memulai perjalanannya dari halaman pertama sebuah buku. Ia bisa memulainya dari sebuah video berdurasi beberapa puluh detik. Tetapi apakah perjalanan itu berhenti pada video tersebut atau berlanjut menjadi pengalaman membaca yang utuh, itulah pertanyaan yang lebih penting.

Dengan kata lain, BookTok mungkin bukan jawaban atas persoalan literasi Indonesia. Tetapi ia juga bukan masalah yang harus dicurigai hanya karena lahir dari media sosial.

Ia adalah bagian dari perubahan sosial yang sedang berlangsung—perubahan tentang bagaimana buku ditemukan, bagaimana pembaca membangun komunitas, dan bagaimana aktivitas membaca memperoleh makna baru di ruang digital.

Apa yang Sebenarnya Kita Maksud dengan Membaca?

Mungkin sudah waktunya kita berhenti mencari jawaban yang terlalu sederhana untuk persoalan minat baca. Mengatakan bahwa orang Indonesia malas membaca tidak cukup untuk menjelaskan kenyataan. Tetapi mengatakan bahwa BookTok telah membuat generasi muda gemar membaca juga belum tentu menggambarkan keseluruhannya.

Keduanya sama-sama berangkat dari keinginan untuk menemukan satu ukuran yang mudah: banyak atau sedikit, rendah atau tinggi, malas atau rajin.

Padahal, membaca adalah aktivitas yang jauh lebih kompleks. Ada orang yang membaca novel berjam-jam tetapi tidak pernah membicarakannya di media sosial. Ada pula yang menemukan buku melalui video TikTok, kemudian membaca dan mendiskusikannya bersama komunitas. Ada yang rutin membeli buku tetapi jarang menyelesaikannya. Ada juga yang membaca artikel, jurnal, berita, atau buku digital tanpa pernah merasa dirinya sebagai “pembaca”.

Jika semua pengalaman tersebut dimasukkan ke dalam satu angka bernama “minat baca”, sebagian realitas akan selalu hilang.

Begitu pula dengan BookTok. Ia mungkin membuat buku kembali terlihat di tengah derasnya konten digital. Ia mungkin membantu seseorang menemukan bacaan baru. Ia juga mungkin mengubah membaca menjadi bagian dari identitas sosial dan gaya hidup. Tetapi kita tetap perlu membedakan antara ketertarikan terhadap buku, konsumsi konten tentang buku, dan pengalaman membaca buku itu sendiri.

Perbedaan tersebut bukan alasan untuk meremehkan salah satunya. Justru dengan membedakannya, kita dapat melihat perubahan budaya membaca secara lebih jernih.

Mungkin yang sedang terjadi bukan sekadar kenaikan atau penurunan minat baca. Mungkin yang berubah adalah cara kita menemukan buku, alasan kita membaca, cara kita berbicara tentang bacaan, dan makna menjadi seorang pembaca.

Dan mungkin pertanyaan paling penting bukan lagi apakah BookTok berhasil menyelamatkan literasi Indonesia.

Melainkan: ketika sebuah buku pertama kali hadir di hadapan kita melalui layar, apakah kita masih memberinya kesempatan untuk membawa kita pergi lebih jauh dari layar itu sendiri?

Akhir Kata: Mungkin yang Berubah Adalah Maknanya

Selama kita masih melihat literasi hanya melalui pertanyaan tentang seberapa banyak orang membaca buku, kita mungkin akan terus terjebak dalam dua cerita yang sama. Cerita pertama mengatakan bahwa masyarakat Indonesia malas membaca. Cerita kedua mengatakan bahwa BookTok membuktikan anggapan tersebut sudah tidak berlaku.

Keduanya mungkin memiliki sebagian kebenaran, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan seluruh kenyataan.

BookTok menunjukkan bahwa buku masih dapat menemukan tempat di tengah budaya digital. Tetapi popularitas buku di media sosial tidak otomatis berarti meningkatnya membaca secara mendalam. Sebaliknya, perubahan cara buku ditemukan dan dibicarakan juga tidak berarti aktivitas membaca kehilangan maknanya.

Yang mungkin sedang berubah adalah hubungan kita dengan membaca.

Buku kini dapat menjadi bacaan, rekomendasi, percakapan, identitas, komunitas, bahkan konten. Semua lapisan itu dapat hadir bersamaan. Karena itu, mungkin kita tidak perlu terburu-buru menyebut perubahan tersebut sebagai kemajuan ataupun kemunduran.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa di balik semua video, rekomendasi, angka penjualan, dan tren, masih ada ruang bagi seseorang untuk benar-benar membaca. Membaca perlahan. Membaca sampai selesai. Membaca sesuatu yang tidak selalu mudah. Dan membaca tanpa harus selalu menjadikannya tontonan.

Sebab pada akhirnya, persoalan literasi mungkin bukan hanya tentang apakah kita masih membaca buku. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah kita masih memiliki waktu, akses, perhatian, dan keinginan untuk memahami sesuatu secara lebih dalam daripada sekadar apa yang muncul di layar?

Mungkin di situlah perbincangan tentang minat baca seharusnya dimulai kembali.

AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Algospeak: Bahasa Rahasia untuk Mengelabui Algoritma

Algospeak: Bahasa Rahasia untuk Mengelabui Algoritma

Mengapa Kita Lebih Nyaman Curhat Lewat Menfess?

Mengapa Kita Lebih Nyaman Curhat Lewat Menfess?

Digital Hoarding dan Kecemasan di Balik File Digital

Digital Hoarding dan Kecemasan di Balik File Digital

Netizen Indonesia Paling Tidak Sopan, Benarkah?

Netizen Indonesia Paling Tidak Sopan, Benarkah?

Kenapa Generasi Sandwich Dianggap Bakti, Bukan Beban?

Kenapa Generasi Sandwich Dianggap Bakti, Bukan Beban?

Ketika AI Jadi Teman Curhat — Kehangatan yang Terasa Nyata, Tapi Ke Mana Perginya?

Ketika AI Jadi Teman Curhat — Kehangatan yang Terasa Nyata, Tapi Ke Mana Perginya?

AD PLACEMENT